Pages

Banner 468 x 60px

.

29 Jun 2009

THL TBPP MASUK LP NUSAKAMBANGAN

0 komentar

Siapa sih yang tidak kenal dengan "keangkeran" pulau Nusakambangan? Hampir setiap orang mengenalnya sebagai pulau penjara bagi penjahat-penjahat kelas kakap. Tidak kurang seperti Amrozi Cs pernah mendekam di Nusakambangan sebelum di eksekusi disana. Namun, Sabtu (27/6) Seorang THL TBPP kabupaten Cilacap Harus masuk ke LP Nusakambangan. Apa yang Dia lakukan sehingga harus masuk LP Nusakambangan?


Andiyanta,SP yang merupakan Koordinator THL TBPP Kabupaten Cilacap pada Sabtu, 27 Juni 2009 masuk ke LP Nusakambangan. Bukan sebagai Pesakitan karena kontraknya tidak diperpanjang namun menjadi Pemateri dalam Pelatihan Napi di LP Nusakambangan. Materi yang disampaikan meliputi: Hidroponik, Budidaya jamur Tiram Putih, Beternak Kelinci. Tidak tanggung-tanggung peserta yang mengikuti pelatihan ini, napi seperti Gunawan Santosa (Bos Asaba), Beni (Bos Pabrik Ekstasi) dan napi-napi yang lain dengan seksama mengikuti materi yang disampaikan saudara Andiyanta,SP. Meskipun beberapa dari mereka tidak mungkin mempraktekkannya karena sedang menunggu hukuman mati.
Read more...

26 Jun 2009

TERIMA KASIH UNTUK SELURUH THL TBPP SE-INDONESIA

1 komentar
Forum Silaturahmi Nasional (FSN) THL TBPP telah selesai dilaksanakan dengan sukses. Kesuksesan acara FSN THL TBPP tidak lepas dari peran serta teman-teman THL TBPP diseluruh penjuru Nusantara. Oleh karena itu seluruh Panitia FSN THL TBPP mengucapkan Terima Kasih atas dukungan dan partisipasi teman-teman THL TBPP. Mari bersama menuju THL TBPP yang LEBIH BAIK. @PANITIA FSN THL TBPP
Read more...

22 Jun 2009

BAGAIMANA MENGAKTUALISASIKAN POTENSI DIRI SEBAGAI THL-TBPP?

1 komentar
Sejak tahun 2007 hingga tahun 2009 ini Pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian (Deptan) RI, telah merekrut Tenaga Harian Lepas - Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) sebanyak 3 gelombang perekrutan. THL-TBPP 2007 (Angkatan I) telah direkrut sebanyak sekitar 6000 orang, disusul THL-TBPP 2008 (Angkatan II) sebanyak 10.000 orang, dan terakhir THL-TBPP 2009 (Angkatan III) sebanyak 10.000 orang. Proyek besar ini adalah sebagian implementasi dari Revitalisasi Pertanian dan Undang-undang No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (UUSP3K). Evaluasi terakhir dari Badan Pengembangan SDM Pertanian Deptan cukup memberi kabar gembira bagi kita para THL-TBPP, bahwa sekitar 88% THL-TBPP Angkatan I dan II telah menunjukkan kinerja yang baik. Realitas ini semoga mampu memberi efek umpan balik (motivasi) yang sangat baik bagi kita, namun sebaiknya kita jangan cepat berpuas diri sehingga membuat kita terbuai dan lalai.

Sebagai ujung tombak pembangunan pertanian, tugas dan tanggung jawab THL-TBPP yang merupakan bagian dari jajaran penyuluh pertanian sungguh berat. Di beberapa daerah, seperti di Kabupaten Probolinggo - Jawa Timur, Pemerintah Daerah - dalam hal ini Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluihan Pertanian (BKP-PPP) - telah memberikan perlakuan yang sama antara Penyuluh Pertanian PNS dan THL-TBPP dalam hal tanggung jawab pelaksanaan tugas. Sebagaimana Penyuluh Pertanian PNS, THL-TBPP menerima Surat Perintah (SP) untuk melaksanakan tugas dengan wilayah desa binaan yang telah ditentukan dengan tanggung jawab penuh dan dimulai sejak tahun pertama bertugas. Hal ini merupakan penghargaan yang patut kita syukuri, sekaligus merupakan tantangan yang harus kita jawab. Pertanyaannya adalah mampukah kita sebagai THL-TBPP (terutama THL-TBPP 2009) mengemban amanat SP itu? Jawabannya sudah tentu: Harus mampu (baca : Harus bisa)!

Bagaimana Memulai Tugas?

Sebagai THL-TBPP kita telah melewati tahapan rekrutmen yang cukup ketat dan menyisihkan begitu banyak pesaing, yaitu peserta THL-TBPP yang lain. Hal ini berarti seorang THL-TBPP layak dianggap telah memiliki standar minimal kemampuan atau kompetensi sebagai seorang penyuluh pertanian. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa para THL-TBPP berangkat dari pengalaman yang beragam sebelum menjadi THL-TBPP. Sebagian dari kita mungkin banyak yang sudah terbiasa berbicara di depan forum pertemuan, karena sebelumnya telah memiliki pengalaman dalam organisasi, menjadi guru, bekerja sebagai formulator pestisida atau berbagai bentuk pekerjaan pendampingan lainnya. Bagi THL-TBPP yang termasuk dalam kelompok ini relatif tidak sulit untuk menyesuaikan diri ketika menghadapi tugas-tugas penyuluhan dalam pertemuan-pertemuan kelompok tani. Tapi tidak sedikit pula THL-TBPP yang pekerjaan sebelumnya tidak terkait dengan pendampingan masyarakat atau bahkan belum memiliki pengalaman pekerjaan/berorganisasi sama sekali. Bagi THL-TBPP yang tergolong dalam kelompok ini, menghadapi forum petani boleh jadi merupakan beban tersendiri. Sebagai bentuk empati, tulisan ini lebih ditujukan kepada THL-TBPP kelompok kedua di atas.

Segala Sesuatu Terjadi Melalui Proses

Ketika menyadari bahwa menghadapi forum petani masih merupakan beban, patutkah kita berkecil hati? Lalu apa yang harus kita lakukan? Pertama, tentu kita harus memotivasi diri kuat-kuat bahwa segala sesuatu itu berproses alias tidak terjadi secara instan. Seperti tanaman yang sedang tumbuh dan berkembang. Seperti bayi yang merangkak, belajar berdiri, belajar berjalan, dan selanjutnya berlari. Seperti kita semua, ketika belajar bersepeda pancal dulu. Ada proses jatuh bangun dan itu lumrah.
Salah satu tupoksi penyuluh pertanian (termasuk THL-TBPP) adalah menyampaikan informasi yang terkait dengan teknologi pertanian dan pemasaran serta memberi motivasi kepada petani dalam menjalankan usaha taninya. Posisi dan fungsi penyuluh pertanian dalam hal ini adalah sebagai jembatan informasi antara peneliti (para ahli) dan praktisi (para petani). Dengan demikian salah satu tugas penting seorang penyuluh pertanian adalah mengkomunikasikan informasi yang diperoleh atau dimilikinya kepada petani dalam bahasa dan gaya penyajian yang mudah dicerna oleh mereka. Dalam konteks ini slogan 'diam itu emas' bukanlah ungkapan seorang petugas lapangan. Seorang penyuluh pertanian dituntut untuk cakap, lugas dan cermat dalam berbicara di depan forum serta piawai dan sistematis dalam membuat tulisan (menyusun materi penyuluhan). Inilah target utama yang harus kita capai secepatnya di masa-masa awal bertugas. Bagaimana cara menuju ke sana?

Gunakan Setiap Sarana dan Peluang Yang Memungkinkan Untuk Berlatih

Menjadi penyuluh pertanian yang ideal tentu bukan pekerjaan yang mudah. Menjadi pembicara atau penulis yang handal dan menarik tidaklah muncul secara tiba-tiba. Tetapi dengan kemauan, tekad dan kesungguhan dalam berlatih, semua itu akan dapat kita capai. Kita perlu menganggap tahun pertama bertugas menjadi THL-TBPP sebagai tahun "pelatihan", tetapi dengan semangat berlatih yang sungguh-sungguh, tertata dan sistematis sehingga tidak sampai merugikan petani sebagai mitra kita. Harus ada tahapan target pribadi dalam hal mengasah kemampuan dan keterampilan. Berikut ini beberapa tip yang bisa digunakan untuk meng-up grade kemampuan kita :

1. Kita perlu menemukan sosok penyuluh pertanian senior (PNS) sebagai panutan atau rujukan selama kita "memproses diri". Amati dan cermati gaya dan langgam berbicaranya ketika sedang memberikan penyuluhan di depan forum petani. Tetapi ingat, kita hanya merujuk, bukan untuk meniru total gaya senior itu. Target pertama yang harus kita capai adalah memiliki gaya dan langgam berbicara yang khas dan menarik. Ini potensi yang unik. Kita harus mengenali diri sendiri, menemukan potensi diri dan selanjutnya menjadi diri sendiri, termasuk dalam hal gaya berbicara.

2. Biasakan menulis atau menyiapkan materi yang akan disajikan berikut ringkasannya. Pentingnya tulisan adalah sebagai panduan agar pembicaraan kita terarah dan runtut. Selain itu, kebiasaan menulis materi akan memberi keuntungan pada saat kita mengumpulkan angka kredit. (Semoga akan tiba saatnya di mana kita semua, para THL-TBPP mendapatkan kesempatan untuk menjadi PNS. Amin). Bobot angka kredit untuk item tulisan materi cukup tinggi.

3. Manfaatkan sarana kegiatan Pelatihan Petugas (LAKU) di BPP masing-masing sebagai sarana berlatih secara maksimal. Kegiatan LAKU yang diselenggarakan 2 minggu sekali pada setiap hari Kamis merupakan media berlatih yang efektif. Karena itu jangan takut dan ragu dalam berlatih. Lebih baik kita ditertawakan teman kerja (kantor) daripada ditertawakan petani.

4. Perkaya perbendaharaan pengetahuan kita dengan sebanyak-banyaknya mengakses informasi-informasi terbaru yang terkait profesi, baik lewat media cetak maupun elektronik.

Sebagaimana pepatah mengatakan tak ada gading yang tak retak, begitu pula kiranya dengan kita. Tak ada petugas lapangan (penyuluh pertanian) yang sempurna. Masing-masing kita lahir dengan potensi atau bakat yang khas. Tugas kita hanyalah terus berlatih untuk mengaktualisasikan potensi itu secara maksimal. Sekali lagi, jangan pernah surut langkah dan berkecil hati. Kita adalah orang-orang yang terpilih untuk mengemban tugas menjadi THL-TBPP. Selamat bekerja, selamat berlatih. Semoga sukses selalu menyertai dan masa depan yang baik akan menyambut kita, Saudara-saudaraku, THL-TBPP se-Indonesia.

Harapan Pada Pemerintah

Paparan tulisan singkat ini setidaknya memberikan gambaran kepada kita semua bahwa tidak mudah dan butuh proses cukup panjang untuk mencetak seorang penyuluh pertanian yang handal. Dengan asumsi seorang penyuluh pertanian baru (dalam hal ini THL-TBPP) memanfaatkan tahun pertamanya bertugas untuk melatih diri, maka baru pada tahun kedua atau ketiga penyuluh pertanian tadi akan memiliki performa yang selayaknya. Maka dapat kita simpulkan bahwa rata-rata penyuluh pertanian atau petugas lapangan baru akan "jadi" dalam rentang waktu 2 atau 3 tahun.
Terkait dengan kebijakan Pemerintah, dalam hal ini Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Men PAN) tentang periode maksimal masa kontrak yang hanya 3 kali masa kontrak, maka sungguh ironis ketika seorang THL-TBPP yang sudah "jadi" pada tahun ke-tiga itu justru kontraknya diputus. Akal sehat tentu lebih menyetujui jika THL-TBPP tadi lebih patut ditingkatkan statusnya atau sekurang-kurangnya kontraknya diperpanjang. Menjelang akhir dasawarsa ini, si saat dunia ditimpa krisis pangan, Pemerintah Indonesia justru mendapatkan apresiasi khusus dalam forum FAO di bidang ketahanan pangan. Ini prestasi pemerintah, prestasi Deptan, dan tentunya prestasi jajaran penyuluh pertanian secara nasional. Kita telah mencapai swa sembada beras dan jagung. Kita akan menyongsong swa sembada kedelai dan daging. Tantangan ke depan semakin berat dan kita semua tentu sepakat bahwa tugas-tugas pendampingan petani di masa depan belumlah usai. Apakah dalam situasi yang semakin penuh tantangan itu kita akan membiarkan petani untuk selalu didampingi oleh petugas-petugas baru hasil rekrutmen baru, atau bahkan mengendorkan intensitas pendampingan, sementara petugas-petugas lama (THL-TBPP pasca tahun ke-tiga masa kontrak) yang sudah memiliki chemistry yang baik dengan petani justru terpinggirkan. Mari kita semua, para pihak terkait, untuk berpikir dan bertindak (mengambil keputusan) dari sudut pandang ini. Mari kita tetap berpegang pada komitmen untuk mewujudkan SATU DESA, SATU PENYULUH dan SATU PENYULUH, SATU DESA. Janganlah semangat Revitalisasi Pertanian hanya gegap gempita di awal, sayup-sayup di pertengahan, kemudian nyaris tak terdengar dan akhirnya tak terdengar sama sekali. Naudzubilalhi min dzallik.
(@ Ir. Nur Samsu THL-TBPP 2008 BPP Paiton, Kabupaten Probolinggo - Jawa Timur)
Read more...

20 Jun 2009

Live Report FSN THL TBPP: Forum Komunikasi THL TBPP Telah Terbentuk

1 komentar

Hari ini Sabtu (20/6) menjadi salah satu hari yang terpenting bagi kita semua keluarga besar THL TBPP di seluruh Indonesia. Setelah melalui rapat-rapat dan diskusi maraton yang diikuti delegasi dari THL TBPP seluruh propinsi telah terbentuk FORUM KOMUNIKASI TENAGA HARIAN LEPAS TENAGA BANTU PENYULUH PERTANIAN NASIONAL(FK THL TBPP NASIONAL)dan selaku ketua FK THL TBPP NASIONAL adalah saudara kita, DEDY ALFIAN.Selamat bagi ketua terpilih dan selamat melanjutkan acara-acara di FSN THL TBPP bagi seluruh delegasi yang hadir.
Adapun FSN THL TBPP sampai saat ini masih terus berlangsung, agenda hari ini antara lain Sarasehan "THL TBPP, DULU, KINI DAN NANTI", Penyampaian hasil rakornas. SEMANGAT!!!


Read more...

FK THL TBPP NASIONAL UNTUK SEMUA

0 komentar

Inilah Palu Kebersamaan, palu Perjuangan THL TBPP yang menjadi saksi terwujudnya kekompakan THL TBPP NASIONAL. Mari bersama pererat tali silaturahmi, Satu wadah dalam FORUM KOMUNIKASI THL TBPP NASIONAL, Satu komando bersama saudara kita DEDY ALFIAN. Menuju THL TBPP kearah yang lebih baik.


Read more...

19 Jun 2009

Live Report FSN: DELEGASI THL TBPP TERUS BERDATANGAN KE FSN THL TBPP 2009

1 komentar
Dari kesunyian dan dinginnya waduk Sermo-Hutan Sermo Yogyakarta dapat dilaporkan sampai tadi malam telah tercatat 22 propinsi mengirimkan delegasi THL TBPP-nya. Agenda hari ini: Pandangan Umum, Forum Silaturahmi Nasional (FSN) THL TBPP, Pembahasan AD/ART FSN THL TBPP. (AA/CLP/JTG)
Read more...

14 Jun 2009

UNDANGAN FORUM SILATURAHMI NASIONAL (RAKORNAS) THL TBPP

0 komentar
Our document viewer, iPaper, is based on Adobe Flash. Make sure your browser has the latest version of the Flash Player, which is available for free from Adobe
Undangan Fsn Thl-tbpp


Read more...

PROPOSAL FORUM SILATURAHMI NASIONAL (RAKORNAS) THL TBPP

0 komentar
Our document viewer, iPaper, is based on Adobe Flash. Make sure your browser has the latest version of the Flash Player, which is available for free from Adobe
Proposal Fsn Thl Tbpp


Read more...

13 Jun 2009

Budaya THL TBPP

2 komentar
(Sebuah Renungan)
Suatu hari ketika saya dalam perjalanan menuju tempat kerja di WKBPP, saya mengendarai sepeda motor dengan jalanan yang tingkat kenyamanannya sekelas jalanan untuk Grasstrak dan mottocros. Jalanan berbatu, berlubang di sana sini di lengkapi kubangan-kubangan air. 50 menit waktu di butuhkan bermotor untuk mencapai Base Camp BPP setiap pagi.

Di sebuah tikungan mendadak saya harus berhenti, karena di depan ada sebuah mobil van”minibus” yang terperosok dan “nyungsep” di pinggir jalan..kedua roda depan nya sudah keluar dari jalan dan masuk ke pematang sawah hampir nyebur ke hamparan tanaman padi. Ada seorang wanita muda yang panik keluar dari pintu mobil, gugup mendapati mobilnya “nyungsep’dan hampir masuk ke dalam sawah. Aku mendapati kejadian sangat runtut, jalanan masih sepi, sehingga bagi wanita muda yang mengemudikan mobil ‘nyungsep” itu sayalah satu-satunya yang di harapkan untuk bisa menolongnya.

Tanpa menunggu si wanita itu meminta tolong, saya turun dari motor dan bergegas untuk membantu sebisanya mengeluarkan mobil nyungsep itu agar bisa kembali ke “jalan”

Maaf kejadian itu, bisa dialami siapa saja di mana saja dengan kadar kejadian yang berbeda beda..tapi boleh saja saya mengambil keputusan lain, umpamanya…..

A. Benar kejadian itu berlangsung di jalanan yang tiap hari saya lewati., tetapi

1. Wanita itu bukan petani! Jadi saya tidak punya kewajiban secara professional untuk mengupayakan pertolongan. Karena tugas saya di fokuskan untuk bisa mengupayakan pemecahan masalah-masalah yang di hadapi petani

2. Kejadian itu berlangsung bukan di wilayah kerja tanggung jawab saya, bukan di WKBPP saya, bukan di Wilbin saya. Jadi menurut tanggung jawab profesional saya tidak wajib untuk menolong beliaunya dan mobilnya.
3. Menurut kitab TUPOKSI THL TBPP tidak ada satupun kalimat yang menyebutkan bahwa ada keharusan saya untuk “menolong” mobil nyungsep di sawah.
4. Tidak ada peraturan daerah(perda) atau aturan tertulis lain yang di keluarkan oleh Pemda,Permentan,Perpres yang bisa menjadi landasan agar saya menolong wanita dan mobilnya yang sedang nyungsep di sawah itu

B. Dan lain lain dan lain lain

Jadi dengan sedikit ataupun banyak argumen dan retorika sebenarnya saya tidak wajib untuk menolong wanita dan mobil nyungsep itu dan mengacuhkan begitu saja.. Dan akan terkumpul banyak sekali alasan alasan untuk sekedar menguatkan keputusan “saya tidak wajib menolong wanita dan mobil nyungsep itu”

Jadi untuk memutuskan menolong wanita dan mobilnya yang nyungsep ,apalagi sama sekali belum sama kenal beliaunya itu, tidak perlu saya membuka agenda harian untuk melihat TUPOKSI THL TBPP umpamanya. Atau membaca/mempelajari Permentan tentang Pembinaan THL TBPP, dan sama sekali tidak harus membolak balik pasal demi pasal dalam perda di kabupaten tempat saya bertugas.

Menolong dan hanya menolong dan keharusan untuk menolong Titik!!!.

Setelah 3 tahun keberadaan THL TBPP di lingkungan pertanian Indonesia dengan jumlah 25000 THL TBPP di seluruh Indonesia . dalam kesehariannya THL TBPP bahu membahu berupaya kembali membangunkan greget gairah pertanian, menawarkan pencerahan, membangkitkan kepercayaan diri petani, membantu menemukan solusi dari masalah yang di hadapi petani. Tenaga Harian Lepas yang menjadi Tenaga Bantu dengan kesadaran semangat “membantu” siapa saja. Ya membantu petani, membantu senior PNS Penyuluh Pertanian, dan di zaman otonomi daerah ini, setidaknya ikut membantu pemerintah daerah di wilayah pertanian yang belum tersentuh penyuluhan. Tentu saja saja hal ini bukan ungkapan “GR” dari THL TBPP karena di dunia kenyataan pembantu berbeda “nasib” dengan “juragan”. Namun kerelaan diri untuk membantu, itu sajalah energi dan semangat yang membuat tetap hidup dan bertahan.

Di Tahun ke tiga ini, teman teman kami-saudara saudara kami sesama ‘pembantu” di ujung pengabdiannya sebagai pembantu.. 5000 lebih THL TBPP dan untuk tahun berikutnya kami semua akan nunggu “giliran” di ujung pengabdian , tanpa kami tahu rencana dari sang ‘juragan”. THL TBPP angkatan I sedang “nyungsep”, terperosok dari jalan dan tidak tahu kepada siapa harus minta tolong.. Kepada pihak pihak yang selama ini di “bantu” berharap bisa menolong THL TBPP setidaknya memberi informasi, membuka ruang diskusi agar semuanya jelas. Tentu saja pihak pihak yang di bantu(Pemerintah, Deptan,Pemda) kenal betul dengan THL TBPP, dan faham dengan situasi menjelang “nyungsep” yang di hadapi. Untuk sekedar membuka ruang diskusi tentu saja sangat-sangat bisa di lakukan, untuk memberi jernihnya informasi atau bahkan menawarkan solusi solusi.

Kalau keharusan menolong nyungsepnya para ‘pembantu’(THL TBPP) ini harus di bikin dulu perpres, permentan, perda, atau di bikinkan UU bagaimana cara membantu situasi “nyungsep” para “pembantu”. Apa beda nasib “mobil Nyungsep di sawah” dengan THL TBPP Indonesia??? (ap/tng/btn)
Read more...

Surat PERHIPTANI Cilacap Kepada Presiden SBY tentang THL TBPP

0 komentar
Read more...

10 Jun 2009

JAMBORE NASIONAL SLPTT 2009 & THL TBPP

0 komentar

Jambore Nasional SLPTT 2009 di Boyolali telah di buka oleh bapak Presiden Susilo Bambang Yudoyono pada hari Senin, 8 juni 2009. Tersedia petak-petak percontohan SLPTT yang dipamerkan oleh petani, swasta, instansi dan tidak ketinggalan dari THL TBPP yang dalam hal ini diwakili oleh FK THL TBPP kab Boyolali. Banjir pujian dari pengunjung terhadap petak SLPTT yang dikelola THL TBPP mengomentari begitu bagusnya tanaman Padi yang dikelola teman-teman THL. Tidak hanya itu, THL TBPP melalui Forum Komunikasi THL TBPP Propinsi Jawa Tengah juga ikut berperanserta dalam Pameran Produk di stand pameran. Banyak produk unggulan yang dipamerkan termasuk pupuk organik yang ASLI buatan temen-temen THL TBPP Boyolali
Tidak berhenti disitu peranserta THL TBPP, sekitar 1000 THL TBPP dari

berbagai Kabupaten/kota di Jawa Tengah dan perwakilan dari propinsi lain ikut serta dalam memeriahkan Jambore Nasional SLPTT di Boyolali. Suana menghangat ketika rombongan Presiden SBY dengan salam hangatnya menghampiri THL TBPP dan mengajak berjabat tangan THL TBPP yang berjajar di tepi jalan.
Di hari yang sama, di tempat rumah singgah yang disediakan oleh THL TBPP, perwakilan THL TBPP Jabar, Jateng, DIY dan Banten berkordinasi untuk mematangkan RAKORNAS THL TBPP yang akan dilaksanakan di Yogyakarta, 18-20 juni 2009. Semoga persiapan yang sudah matang ini di hari H bisa terlaksana dengan baik dan menghasilkan yang baik pula. Oleh karena itu Dukungan dan kehadiran teman-teman THL TBPP se-Indonesia akan sangat berarti dalam menuju suatu jejering THL TBPP demi terwujudnya kekompakan dan kebersamaan THL TBPP Indonesia. Kita SATU, THL TBPP INDONESIA!!!
Contact Person RAKORNAS (Forum Silaturahmi Nasional):
Dedi Alfian/Ketua Dewan Presedium THL TBPP se-Jawa: 081328403755
Supriyanto Raharjo/ Ketua Panitia Rakornas THL TBPP: 081804341821
Dian Kurniasih/ Sekretaris : 085643673160
Ardiana Wulandari/ Bendahara: 085292558056
Read more...

Permintaan Pengumpulan Data Base THL TBPP

0 komentar
Kepada yang terhormat Koordinator FK THL TBPP kabupaten/kota se-Jawa Tengah untuk Pemutahiran data THL TBPP FK THL TBPP Jateng,dimohon untuk segera mengirimkan data base THL TBPP di kabupaten/kota saudara ke: dihanindra@yahoo.com & atau admin.thl4all@gmail.com dan Terima kasih atas kerjasamanya. Salam THL!!!
Format data base sebagai berikut:
BIODATA THL TBPP

KABUPATEN:.........







NONAMA THLWILAYAH DESA BINAANJML KEL. TANIJML ANGGOTA
1Andi WBinangun7200
2Niken SPDoplang9280
3Dst...Dst...Dst...Dst...
Read more...

6 Jun 2009

Temu FORUM SILATURAHMI NASIONAL (RAKORNAS) THL TBPP DIUNDUR

2 komentar
Dikarena berbagai pertimbangan dan saran serta untuk mencapai hasil maksimal maka temu Forum Silaturahmi Nasional (RAKORNAS) yang sedianya dilaksanakan tanggal 4-6 Juni diundur menjadi 18-20 Juni 2009 di Yogyakarta. Agenda 1) RAKORNAS THL TBPP, 2) Pembentukan Forum Komunikasi THL TBPP, 3) Seminar Nasional "THL TBPP DULU, KINI & NANTI" 4) Penyampaian hasil Forum Silaturahmi Nasional THL TBPP. (@Panitia FSN THL TBPP)
Read more...

2 Jun 2009

MENJAHIT PAKAIAN KEBERSAMAAN

1 komentar

Kalau pada suatu saat saya pengen baju , celana pakaian yang nyaman bagi saya untuk di pakai dan di kenakan, maka saya akan datang ke tukang jahit untuk minta di bikinkan pakaian yang pas dengan badan saya. Tentu saja celana pakaian saya hanya nyaman dan enak di pakai untuk badan saya karena di ukur dan di buat memang untuk badan saya. Bagi anda celana saya mungkin kekecilan, bisa juga terlalu longgar. Sehingga umpama suatu saat anda bersilaturahmi ke rumahku, dan saya berniat menghadiahkan baju baru kepadamu maka saya tidak bisa mengatakan ‘baju ini bagus dan sangat nyaman untukmu” karena baju-celana itu di jahit berdasarkan ukuran tubuhku. Sangat pas hanya untuk ukuran tubuhku, nyaman dan enak untuk situasi di sekitar rumahku.

Potret potret permasalahan, di dalam tubuh THL TBPP Indonesia juga sangat beragam, jumlahnya mungkin sebanyak jumlah THL TBPP itu sendiri. Mengapa sampai tahun ketiga ini belum mengkristal umpamanya solid dan kompaknya THL TBPP Indonesia bisa jadi karena setiap THL TBPP lebih mengedepankan “baju-celana” yang pas dan nyaman bagi diri dan daerahnya. Ada temen2 THL TBPP yang mendapat respone sangat bagus di daerahnya sehingga oleh “pemda”nya di berikan kenyamanan kenyamanan. Tapi banyak juga temen temen THL yang ketlingsut, di”acuhkan” keberadaannya walaupun sudah menjalankan amanah tanggung jawabnya umpamanya.

Potret potret permasalahan, di dalam tubuh THL TBPP Indonesia juga sangat beragam, jumlahnya mungkin sebanyak jumlah THL TBPP itu sendiri. Mengapa sampai tahun ketiga ini belum mengkristal umpamanya solid dan kompaknya THL TBPP Indonesia bisa jadi karena setiap THL TBPP lebih mengedepankan “baju-celana” yang pas dan nyaman bagi diri dan daerahnya. Ada temen2 THL TBPP yang mendapat respone sangat bagus di daerahnya sehingga oleh “pemda”nya di berikan kenyamanan kenyamanan. Tapi banyak juga temen temen THL yang ketlingsut, di”acuhkan” keberadaannya walaupun sudah menjalankan amanah tanggung jawabnya umpamanya.

Di dalam potret keinginan dan cita cita THL TBPP juga sangat beragam keinginannya, mungkin saja ada yang menganggap peran pekerjaan THL TBPP hanya sebagai “batu loncatan” karir pribadinya, ada juga yang bertahun tahun melamar pekerjaan dan “ndilalahnya” di terima di rekrutmen THL TBPP. Tapi adapula dan banyak yang sebenarnya sudah punya pekerjaan mapan sebelumnya namun karena panggilan jiwa atau apapun untuk bisa berbuat di bidang pertanian dengan terpaksa atau kesadaran melepas pekerjaan sebelumnya untuk ikut bergabung menyumbang tenaganya di bidang pertanian menjadi “tenaga bantu”di THL TBPP. Di dalam potret kesejahteraan financial dari honor yang di terima THL TBPP juga beragam dinamikanya. Ada yang honornya menjadi THL TBPP merupakan sumber nafkah utama bagi diri dan keluarganya, tidak sedikit pula yang honor sebagai THL TBPP hanya merupakan “uang jajan”bagi anaknya atau sekedar anggaran “pulsa”. Karena tidak sedikit temen2 THL TBPP juga menjadi pelaku bisnis yang sukses dan tangguh, entah di bidang pertanian atau yang lainnya. Dan masih banyak lagi potret keragaman diantara THL TBPP,

Mengapa sampai tahun ketiga ini belum ada kesolidan THL TBPP Indonesia yang maaf semua personelnya mengenyam pendidikan(menengah-tinggi) bahkan berada di dalam atmosfer pengetahuan keilmuan yang sama(pertanian). Mungkin salah satunya karena setiap gerakan aktifitas THL TBPP titik pandang kesadaranya hanya berlaku dan di semangati untuk “baju-celana’ yang nyaman bagi diri dan daerahnya kalau sedikit meluas. Belum muncul kesadaran dan pergerakan yang signifikan yang berupaya mewujudkan ‘pakaian kebersamaan”. Jambi berbeda dengan Riau. Gorontalo-Sumsel-NTB-Banten-Jabar-Papua masing masing berbeda atmosfer permasalahannya. Maka “celana-baju” THL TBPP Gorontalo dan Riau tidak muat di kenakan THL TBPP Banten walaupun temen temen pengen punya “celana’seperti itu.

Silaturahmi Nasional, Saresehan Nasinal, Temu Nasional oleh THL TBPP Indonesia atau apapun namanya hendaknya bukan di semangati keinginan mendapatkan “baju-celana” yang pas dan nyaman untuk diri dan daerahnya. Tetapi adalah semangat untuk menjahit “pakaian kebersamaan’yang siapa saja (THL TBPP) nyaman mengenakannya. Mungkin saja tidak bisa di sebut baju dan celana wujud pakaian itu.

Temu Nasional THL TBPP Indonesia semoga mampu mempertemukan sesobek dan secuil kain-kain dari THL TBPP Aceh hingga Papua untuk kemudian bersama sama di jahit menjadi lembaran kain Selimut THL TBPP Indonesia yang mampu menghangatkan kebersamaan dan persaudaraan THL TBPP Indonesia…. Semoga.. Tapi tunggu dulu jangan jangan kita belum bisa menyumbang sesobek kain, karena 3 tahun ini bisa jadi THL TBPP masih berupa “benang-benang” sehingga butuh energi yang lebih besar. Ayo bersama sama ”memintal dan menjahit pakaian kebersamaan” THL TBPP Indonesia.(AA/TGR/BTN)
Read more...

Jangan Ada Lahan Kosong

0 komentar
“Jangan ada sejengkal pun lahan kosong,” demikian Wakil Gubernur (Wagub) HM Masduki berpesan kepada masyarakat petani di Desa Cibingbin, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, Jumat (29/5) lalu. Kala itu, Wagub melakukan kunjungan kerja melihat hasil proyek-proyek di lingkungan Pemprov Banten, baik berkaitan pendidikan, pertanian, kelautan, kehutanan, infrastruktur, hingga pemberdayaan masyarakat. Sehari sebelumnya, beliau melakukan perjalanan dari Kabupaten Lebak bagian timur hingga Lebak bagian selatan, lalu tiba di Kabupaten Pandeglang bagian selatan.

Wagub melanjutkan ungkapannya bahwa lahan bisa menjadikan pemiliknya sejahtera. Jika tidak dikelola, maka kerugiannya sangat besar. Penulis yang ada mendampingi Wagub saat itu termenung sejenak mendengar ungkapan itu. Begitu sangat dalam maknanya. Mengapa?
Lahan diciptakan untuk dikelola secara baik. Pengelolaan ini bertujuan untuk mendapatkan penghasilan bagi pemiliknya. Tanpa dikelola, lahan akan menjadi petaka. Musibah longsor, banjir, hingga gangguan alam lainnya adalah berawal dari lahan yang tidak dikelola dengan baik.
Pemandangan di hadapan rombongan pejabat Pemprov Banten termasuk Wagub yang didampingi para anggota kelompok tani hutan dan pengurus Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) adalah hamparan pohon jati (Tectona grandis) yang luasnya ratusan hektar. Pohon jati yang ditanam di lahan masyarakat itu adalah hak milik masyarakat. Umur pohon jati yang tumbuh itu berumur 2 dan 3 tahun, buah dari program rehabilitasi lahan baik yang didanai APBD Banten maupun pemerintah pusat, dalam hal ini Departemen Kehutanan, pada tahun 2005 dan tahun 2006. Ada juga hamparan kecil nun jauh pohon akasia, yang batangnya sudah terlihat berwarna jingga. Kalau jati bisa dipanen sekitar 7 tahun lagi, sedangkan umur akasia kurang dari itu.
Penyuluh Kehutanan setempat bernama Herman bertutur kepada Wagub bahwa perubahan pengelolaan lahan oleh masyarakat seiring dengan gerakan penanaman pohon. Masyarakat, lanjutnya, merasa senang karena sudah membayangkan apa yang akan mereka lakukan setelah memanen jati 10 tahun mendatang. Rata-rata ingin berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Cita-cita yang logis.
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Mohammad Yanur merinci kepada penulis, bahwa pohon jati yang dipanen dengan umur 10 tahun menghasilkan 2 kubik lebih. Jika 100 pohon yang ditebang, maka dihasilkan 200 kubik. Dan jika 1 kubik harga minimalnya Rp 1 juta, maka dihasilkan Rp 200 juta. Tentu saja belum bersih, karena harus dipotong biaya penebangan dan proses izin serta lainnya. Tapi, ratusan juta setidaknya sudah benar-benar nyata. Luar biasa. Herman dan Yanuar menegaskan, bahwa warga di Cibaliung dan sekitarnya, bisa berangkat haji, membeli mobil, membuat rumah layak, dan setidaknya hidup lebih sejahtera adalah dari hasil penjualan kayu. Karena kayu apapun saat ini tidak pernah tidak laku untuk dijual.
Pertanyaan saya, bagaimana petani hutan itu memenuhi kehidupan harian, mingguan, atau bulanannya? Karena, jati dipanen 10 tahun setelah tanam? Yanuar menjawab, yakni dengan memadukan penanaman pohon musiman, baik pangan maupun palawija. Atau bisa juga dengan memanfaatkan hasil hutan lainnya, baik jamur, madu, hingga pembuatan pupuk kompos. Jadi tidak perlu dikhawatirkan, ujarnya. Memang syarat utamanya untuk bisa berdaya adalah masyarakat tidak malas. Dibantu dengan bimbingan penyuluh atau pendamping, maka hal itu akan mewujud sempurna.
Wagub sebelum meninjau ke lokasi penanaman jati juga meninjau demplot penanaman kacang kedele yang tumpang sari dengan pohon jati usia 2 dan 3 tahun. Kedele dijadikan komoditas unggulan selatan karena tanahnya yang cocok. Juga memiliki keunggulan spesifik lainnya. Mungkin perlu juga dilakukan demplot lainnya untuk penanaman jagung, ubi jalar, dan lainnya. Sehingga benar-benar tidak ada lahan kosong yang dibiarkan begitu saja. Perpaduan hutan kayu, tanaman pangan, dan palawija setidaknya mampu menjadikan masyarakat bisa lebih sejahtera. Konsep yang dikenal dengan agroforestry ini layak dikembangkan, tentu saja dengan pendampingan masyarakat yang sempurna.

Agroforestry

Hal yang paling menakjubkan saat peninjauan itu adalah, ketika penulis dan rombongan sama-sama masuk ke kawasan hutan rakyat untuk melihat agroforestry. Tepatnya di Desa Mendung, Kecamatan Cibaliung. Cerita dari anggota kelompok tani hutan dan penyuluh setempat, 5 tahun lalu kawasan itu hanya diisi tanaman perdu. Setiap kali kemarau, tentu saja gersang. Air pun langka. Hal ini menyebabkan sawah-sawah yang ada di lembah mengering. Masyarakat tidak mampu mengolah lahan sawah mereka, kecuali hanya sekedar menanam kacang-kacangan atau ubi. Itu pun hanya sedikit. Mereka lebih memilih untuk keluar desa mencari pekerjaan kasar, baik buruh petik kelapa, buruh bangunan, atau berdagang.
Namun, kini kondisi itu berubah. Di kawasan agroforestry telah tumbuh menjulang tinggi pohon akasia (Acasia mangium). Berderet berjajar rapi dengan jarak tanam 2 meter kali 2 meter. Wagub yang menyaksikan sedemikian rapat pohon itu, terkagum-kagum sambil berujar, ”Ini namanya hutan. Ini harus terus dikembangkan. Saat penebangan nanti saya minta jangan serentak, tapi tebang pilih.”
Di antara sela-sela, ditanam pohon hortikultura, antara lain durian, rambutan, dan mangga. Meski pertumbuhannya tidak sempurna, petani yakin jika pihaknya sudah melakukan penjarangan, maka pohon-pohon itu akan segera tumbuh maksimal. Harapannya, di lahan agroforestry itu, selain dihasilkan kayu juga dihasilkan buah-buahan yang menjadi unggulan Provinsi Banten. Semoga, masyarakat Banten di wilayah selatan benar-benar berjaya di bidang pertanian, kehutanan, hingga kelautan. Semoga!

Dadan A Hudaya, SP (thl tbpp kab. pandeglang/banten)
Read more...