Pages

Banner 468 x 60px

.

29 Mar 2010

Kontrak kerja THL-TBPP Angkatan I Tahun 2007 sedang disiapkan

Kontrak kerja THL-TBPP Angkatan I Tahun 2007 sedang disiapkan, mudah-mudahan bisa dimulai bulan April. Hari ini senin 29 Maret 2010 persetujuan dari BAPPENAS, selanjutnya diteruskan ke Kementerian Keuangan (sumber info: Kapusbangluhtan BPSDM Pertanian) Mohon tetap bersabar rekan-rekan, inilah prosedural dan birokrasi yg harus ditempuh. Semoga segera terealisasi.

Read more...

Verifikasi dan Validasi Database THL TBPP

Kepada THL-TBPP di Seluruh Indonesia
Dalam rangka verifikasi dan validasi database THL TBPP yang dilakukan oleh FK THL TBPP Nasional, kami mohon perhatian,bantuan dan kerjasamanya:
1. Batas waktu maksimal pengiriman database yang telah ditandatangani Koordinator FK THL TBPP Kabupaten/Kota serta rekapitulasi data THL TBPP per Provinsi yang telah ditandatangani Koordinator FK THL TBPP Provinsi adalah TANGGAL 3 APRIL 2010.
2. Batas waktu maksimal perbaikan database adalah TANGGAL 3 APRIL 2010.
3. Database yang dibuat harus sesuai dengan blanko yang kami buat (terlampir Disini atau Disini).
4. Bagi Koordinator FK THL TBPP Kabupaten/Kota dan Koordinator FK THL TBPP Provinsi di Seluruh Indonesia harus memasukan semua THL TBPP yang masih aktif diwilayahnya ke dalam database dan dampak yang terjadi apabila ada THL TBPP yang tertinggal merupakan tanggung jawab FK THL TBPP Kabupaten/Kota dan Provinsi.
5. Database softcopy dikirim ke alamat email:fk_thltbppnas@yahoo.co.id dan database hardcopy dikirim melalui pos (alamat kami berikan setelah pengirim mengirimkan sms ke sms center FK THL TBPP Nasional).
6. Kami tidak menerima database yang tidak terisi lengkap.
7. Kami tidak melayani sms atau telepon selain dari Koordinator FK THL TBPP Kabupaten/Kota dan Koordinator FK THL TBPP Provinsi.
8. Hal-hal di luar ketentuan di atas,bukan merupakan tanggung jawab kami.

Atas perhatian,bantuan dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.

Tertanda

TIM DATA FK THL TBPP Nasional


sms center: 081281030849

Read more...

Mendongkrak Pemanfaatan Sumber Pangan dengan Sentuhan Teknologi

Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah dalam keragaman dan jumlahnya, namun sudahkah kekayaan alam itu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya? Ubi kayu, sagu, ubi jalar, sukun, dan puluhan ubi lainnya berpotensi menjadi sumber bahan baku tepung untuk industri berbasis pertanian. Sudah saatnya produk negeri sendiri mendapat peran yang selayaknya.
Singkong atau ubi kayu adalah anugerah bagi tanah Nusantara. Melalui batangnya yang ditancapkan ke dalam tanah dapat dihasilkan umbi sebagai sumber pangan. Namun mengapa timbul kesan kasihan, nelangsa, dan kekurangan pangan jika ada warga negeri ini yang mengonsumsi ubi kayu?. Pandangan bahwa ubi kayu identik dengan kemelaratan perlu diluruskan.Ubi kayu memang lebih murah dari beras, dan memilih ubi kayu sebagai sumber karbohidrat menggantikan beras merupakan keputusan yang bijak. Ubi kayu sewajarnya dikembalikan menjadi bagian dari pangan pokok. Dalam pemenuhan pangan, ubi kayu semestinya sederajad dengan beras sebagai sumber karbohidrat. Tabir yang menutupi keunggulan ubi kayu harus dikuak, sehingga ubi kayu mendapat tempat yang layak dan menjadi bagian dari makanan melalui transformasi menjadi sajian yang modern.

Ubi kayu sangat mudah tumbuh, namun saat ini produktivitasnya belum maksimal. Salah satu penyebabnya adalah petani belum banyak memberi pupuk organik dan anorganik pada tanamannya. Di Lampung sebagai penghasil ubi kayu terbesar, kesenjangan produktivitas masih jauh. Produktivitas di tingkat petani berkisar 11-17 t/ha dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, sementara di tingkat penelitian dapat mencapai 50-60 t/ha dengan memberikan pupuk kandang dan pupuk anorganik serta sistem tanam double row. Oleh karena itu perlu upaya keras untuk mendongkrak produktivitas ubi kayu, paling tidak menembus angka 35 t/ha.
Dilihat dari pemanfaatannya dalam skala besar, ubi kayu umumnya diolah menjadi tapioka dan gaplek. Rendemen yang diperoleh adalah 20-30% tapioka dan onggok sekitar 10%. Mutu tapioca sangat beragam, terutama derajad putih dan kebersihannya. Mutu gaplek juga sangat bervariasi karena penanganan yang kurang baik, bahkan tingkat kerusakan cukup tinggi.
Produk lain dari ubi kayu dalam skala kecil adalah pangan tradisional seperti tiwul dan gatot. Di beberapa daerah produk ini sudah dibuat instan atas binaan industri pangan dan peran pemerintah. Namun produk pangan tradisional ini masih kurang populer karena masalah selera dan penyajiannya kurang praktis. Bentuk olahan lainnya adalah krupuk dan berbagai camilan.
Dengan segala keterbatasan yang ada, sering kali petani ubi kayu hanya berperan sebagai produsen bahan baku yang tidak memiliki akses dalam menentukan harga produk segar, ditambah kondisi terdesak atas kebutuhan uang tunai. Untuk mengatasi masalah harga, ubi kayu dapat diolah menjadi produk olahan sederhana seperti chips, sawut kering atau tepung kasava. Pengolahan dapat dilakukan oleh petani atau kelompok tani sehingga dapat meningkatkan nilai tambah. Pengolahan ubi kayu menjadi tepung kasava relatif mudah dan dapat ditangani oleh kelompok tani. Rendemen yang diperoleh berkisar 27-30%.
Tepung kasava cocok untuk substitusi terigu pada berbagai produk pangan. Ketiadaan gluten pada tepung kasava perlu dilihat sebagai keunggulan sehingga secara kesehatan dapat digunakan untuk diet bagi penderita autis. Kemampuan substitusi tepung kasava pada mi dan kue kering/biskuit mencapai 50%, pada roti 25%, dan pada produk cake dapat mengganti 100%
terigu. Peluang yang sangat besar dalam pengurangan impor gandum ini perlu didukung berbagai pihak.

Peluang lain yang cukup prospektif adalah mengolah kasava menjadi gula cair. Teknologi pengolahan gula cair skala pedesaan yang dapat dioperasikan oleh kelompok tani telah tersedia. Bahan baku gula cair tidak harus berupa tepung kasava atau tapioka kering, tetapi dapat langsung dari pati basah. Gula cair yang dihasilkan melalui proses enzimatis berupa glukosa. Bioreaktor sederhana skala 100 liter mampu mengkonversi 40 kg pati basah (kadar air 40%) menjadi 21-25 kg gula cair dalam 3 hari proses. Semakin besar kapasitas peralatan, semakin ekonomis biaya produksinya.
Sumber bahan baku tepung lainnya adalah sagu. Banyak orang mengenal pati sagu sebagai campuran dalam pembuatan kue kering dan lempeng sagu. Di Jawa Barat terdapat mi gleser yang 100% terbuat dari sagu. Dengan sedikit perbaikan pada proses pengolahannya, mi gleser telah berevolusi menjadi "mi metro" atau mi sagu yang lebih higienis, aman, dan mutu lebih baik.
Nama mi metro berasal dari Metroxilon sp. nama latin tanaman sagu.
Teknologi pembuatan mi sagu cukup sederhana meskipun berbeda dengan mi terigu, dan dapat dilaksanakan oleh kelompok tani. Sosialisasi mi sagu di daerah sentra sagu di Kabupaten Luwu Utara (Sulawesi Selatan) menunjukkan 72,5% anak SD dapat menerimanya, meskipun sebelumnya tidak mengenal mi sagu. Teknik pembuatan mi sagu dan alat pencetaknya sebagai contoh telah dicoba dan diadopsi di wilayah tersebut. Tampaknya mi sagu cocok disosialisasikan ke daerah sentra sagu lain sebagai variasi pangan dari sagu.
Secara kesehatan mengonsumsi mi sagu mendapat manfaat dari resistant starch (RS) atau pati tak tercerna. Pati ini tidak dapat dicerna oleh enzim-enzim pencernaan dalam usus manusia sehingga memiliki peran penting dalam diet. RS mampu mengikat asam empedu, meningkatkan volume feses dan mempersingkat waktu transit. RS juga mempunyai efek prebiotik.
Kandungan RS dalam mi sagu berkisar 45 mg/g, atau 4-5 kali lebih besar daripada RS mi instan asal terigu. Endang Yuli Purwani, peneliti yang menangani sagu menyatakan bahwa efek prebiotik dari RS pada orang dewasa diperoleh pada tingkat konsumsi RS 15 g tiap 3 hari. Jumlah tersebut cukup untuk menstabilkan populasi bakteri nonpatogen dalam usus.
Sumber pangan lain seperti sukun, labu kuning, ubi jalar, dan umbi lainnya (garut, ganyong, gembili) juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan setempat. Teknologi pengolahan untuk menghasilkan tepung dan pemanfaatannya, baik untuk substitusi terigu maupun produk lainnya sudah tersedia di Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian. (source: neocassava.blogspot.com)

Read more...

19 Mar 2010

Restore Ecology to Prevent Rice Pest Outbreaks in Thailand

Bangkok, Thailand – Devastating outbreaks of brown planthoppers (BPH) in Thailand’s rice crop can be prevented if an eco-friendly approach to pest management is adopted, according to the International Rice Research Institute (IRRI). The brown planthopper (BPH) is one of the most destructive pests of rice and, this season, they are in plague proportions in Thailand – the world’s biggest exporter of rice.
Khun Manit Luecha, director of Chainat Rice Seed Center, says, “This is the worst outbreak of BPH I have seen in my career since 1977. Most of the paddy fields – probably more than 1 million hectares – will suffer rice yield losses of more than 30%.” Damage has spread from the north, especially in Khampaeng Phet and Phichit, to Suphan Buri, Chainat and Ang Thong in the Central Plains – the rice bowl of Thailand. Damages are serious already and new outbreaks are being reported every day. BPH also transmits two viral diseases that can severely stunt and discolor the plant and prevent grain formation. “BPH becomes a pest when natural control mechanisms fail,” says Dr. K.L. Heong, an insect ecologist at IRRI.
“To prevent outbreaks we must restore the natural environment and biodiversity to keep BPH numbers below economically damaging levels," he added. "To achieve this, farmers will have to use pesticides more strategically and adopt ecological engineering principles."
To manage BPH, IRRI recommends that farmers:
  • Adopt integrated pest management (IPM) practices.
  • Grow beneficial plants in the “bunds” between rice paddies to attract BPH predators such as spiders, crickets, and parasitoids.
  • Synchronize rice plantings so that there are times when no rice is growing to prevent immigrant BPH from establishing new populations.
  • Plant a BPH-resistant rice variety, such as RD29, RD31, RD41, Pisanulok2, Supanburi2, Supanburi3, and Supanburi90.
  • Do not apply fertilizer in excess as overfertilized crops tend to promote BPH growth.
  • Limit pesticide use to control leaf-eating insects as these products kill the BPH’s natural predators as well.
  • If a pesticide must be used to control BPH, use BPH-specific chemicals, such as buprofezin, as it has fewer effects on BPH’s natural enemies.
IRRI has been monitoring the BPH and virus situation across Asia with increasing concern over the past several years. “Last year, high rice prices motivated Thai farmers to grow rice continuously, fertilize their rice more in an effort to boost yields, and attempt to protect their investment by spraying more pesticides to keep leaf-eating insects at bay,” said Dr. Heong. “This combination of practices helped cause the current BPH outbreak in Thailand."  Dr. Heong coordinates the Rice Planthopper Project, a collaborative research network with national scientists in Asia co-funded by IRRI and the Asian Development Bank that aims to share knowledge and develop sustainable ways to manage BPH problems.
If farmers or their advisors want to find ways to manage existing BPH problems and to prevent future outbreaks they can go to the Ricehoppers Blog.
IRRI helps farmers manage pests in a sustainable way by developing pest-resistant rice varieties, IPM strategies, and ecological engineering approaches.beta.irri.org
Read more...

17 Mar 2010

Health Benefits of Rice

Health benefits of rice include providing fast and instant energy, good bowel movement, stabilizing blood sugar levels and providing essential source of vitamin B1 to human body. Other benefits include skin care, resistance to high blood pressure, dysentery and heart diseases. Rice is the staple food in most of the countries and it is an important cereal crop that feeds more than half of the world’s population.
Health benefits of rice can be found in more than forty thousand varieties of this cereal available in the world. The two main categories include whole grain rice and white rice. Whole grain rice is not processed much, therefore it is high in nutritional value, whereas white rice is processed so that the bran or outer covering is removed and it has less nutritional value. Rice can also be defined by the length of each grain. Indian or Chinese cuisines specialize in long grained rice, whereas western countries prefer short or medium sized grains. According to Rice-Trade, rice is extremely nutritious. Some of the health benefits specified by them are as follows:
  • Great Energy Source: As rice is rich in carbohydrates, it acts as fuel for the body and aids in normal functioning of the brain.
  • Cholesterol Free: Eating rice is extremely beneficial for health, just for the fact that it does not contain harmful fats, cholesterol or sodium. It forms an integral part of balanced diet.
  • Rich in Vitamins: Rice is an excellent source of vitamins and minerals like niacin, vitamin D, calcium, fibre, iron, thiamine and riboflavin.
  • Resistant Starch: Rice abounds in resistant starch, which reaches the bowel in undigested form. It aids the growth of useful bacteria for normal bowel movements.
  • High Blood Pressure: As rice is low in sodium, it is considered best food for those suffering from high blood pressure and hypertension.
  • Cancer Prevention: Whole grain rice like brown rice is rich in insoluble fibre that can possibly protect against many types of cancers. Many scientists believe that such insoluble fibres are vital for protecting the body against cancerous cells.
  • Skin Care: Medical experts say that powdered rice can be applied to cure some forms of skin ailments. In Indian subcontinent, rice water is duly prescribed by ayurvedic practitioners as an effective ointment to cool off inflamed skin surfaces.
  • Dysentery: The husk part of rice is considered as an effective medicine to treat dysentery. A three month old rice plant’s husks is said to contain diuretic properties. Chinese people believe that rice considerably increases appetite, cures stomach ailments and indigestion problems.
  • Alzheimer’s Disease: Brown rice is said to contain high levels of neurotransmitter nutrients that can prevent Alzheimer’s disease to a considerable extent.
  • Heart Disease: Rice bran oil is said to have antioxidant properties that promotes cardiovascular strength by reducing cholesterol levels in the body.
  • According to International Rice Research Institute in Philippines, the nutritional value of rice needs to be improved more so that it benefits mankind.  Rice, being the most dominant cereal crop in most of the countries can improve the health condition of millions of people who consume it. Efforts are made to increase the micronutrient value of rice by mixing traditional methods of growing crops and modern bio-technology. The institute further states that development of rice with high iron and zinc compounds could be possible through bio-fortification. That can also induce high quality yields, which could be eagerly accepted by farmers as well as rice consumers.
More on Rice:
Rice can also prevent chronic constipation. The insoluble fibre from rice acts like a soft sponge that may be pushed through intestinal tract quickly and easily. Brown rice and whole grains are said to be rich in insoluble fibre. But, it is advisable to drink lots of water for relieving constipated state along with fibrous foods. Diabetic patients are recommended to include brown rice rather than white rice that contains low levels of glycemic index. Just a cupful of brown rice on daily basis provides you with almost 100% manganese value, which aids in producing energy from carbohydrates and protein. Brown rice is extremely beneficial for normal functioning of nervous system and production of sex hormones.organicfacts.net

Read more...

8 Mar 2010

Soft Rice : Beginning of Tests

The CRRI obtained Aghonibora from the Titabar Regional Research Station in Assam and experiments at the institute in Orissa began in 2008. The results were encouraging. Aghonibora, had an extremely low amylose (a starch that gives rice its hardness) content. That makes the grains so very soft and gives it the amazing quality of being ready-to-eat simply after soaking in water for 45 minutes at room temperature. When the water is lukewarm it takes 15 minutes. Adhya said that normal rice has 20 to 25 per cent amylose while that in soft rice is 4.5 per cent. Experiments in Cuttack showed that Aghonibora is also a variety that does not crave for extra expenditure or special treatment. It takes about 145 days to mature whereas normal rice varieties make their farmers wait three to six months. Aghonibora yields 4.5 tonnes per hectare (ha), much higher than the average 2.2 tonnes per ha for the country and 1.7 tonnes per ha for Orissa.
While a journal is yet to publish these finds, T Ahmad, the chief scientist at the Regional Agricultural Research Station (rars), Titabar, was surprised to hear about the finds. He said that Aghonibora developed by his institute was not soft and could not be eaten without cooking. He said that the scientists at CRRI must have resorted to some biochemical changes to make the rice soft after parboiling. Adhya, however, was firm in stating that no biochemistry had been resorted to. The variety obtained from Assam was simply purified and then grown in CRRI. Besides, Sharma also explained that rice varieties that have an amylose content of five to eight per cent are called soft. Hence Aghonibora with its 4.5 per cent is a borderline case.
Keeping the statements of both scientists in view, it might be that a difference in the environmental conditions due to a shift from Assam to Orissa brought about the change in the qualities of the rice.
CRRI will begin its field trials next year. The institute that has so far tested the crop only in the kharif season, will do so in the rabi season this year for the first time. “We are also trying to reduce the duration of growth from 145 to 120 days,” said the scientist.
This economical and environment-friendly soft rice is expected to be a hit in Orissa where eating soaked rice, locally known as pakhal, is a tradition. Pakhal is soaked after being cooked whereas soft rice does away with the whole idea of cooking, thus not only saving fuel but also the physical labour involved. It promises to keep the environment pollution-free.
“We do not have specific energy audit for calculating how much energy will be saved. But considering an average of 10-15 minutes required for cooking a meal of rice, the energy usage can be worked out,” said Adhya. He has distributed the seeds to farmers in Cuttack and Jagatsinghpur district of Orissa.
Read more...

7 Mar 2010

Soft Rice From India

soaked in water, the parboiled rice grains expanded, softened and were ready to eat, surprisingly. Sharma had heard about rice that can be eaten without cooking but for the first time he saw it happen in front of his eyes.

There is not much that differentiates an Aghonibora soft rice grain from other rice varieties that grow in India. With a similar grain length and breadth of 5.85 and 2.12 mm, the plant grows 90 cm tall. The parboiled Aghonibora rice grains are yellowish in colour, too. Each grain is 7.65 per cent protein-rich, just like other rice varieties. But the similarity ends here. It makes for a dish of rice that need not be cooked.

Srigopal Sharma, chief scientist at the Central Rice Research Institute (crri) in Cuttack, makes a living by peering at the rice specimens lying in his office which also serves as his laboratory.

Some days he takes a walk in the sprawling rice fields of the experimental plots in the institute. These days he spends his entire time working with Aghonibora, the variety named after aghoni— the months of November, December when it is harvested .

Aghonibora has been grown in Assam for quite some time. During a trip to Arunachal Pradesh in 2007, Sharma made a stopover in a village in the Shonitpur district of Assam. Aghonibora is used as a breakfast cereal there. In fact, a farmer offered him some but its quality was not so good. However, seeing that it did not require any cooking got Sharma thinking about its prospects in Orissa.

“We decided to test the feasibility of growing rice in the hot and humid climate of Orissa, “ said CRRI’s director T K Adhya. The temperature during the grain filling period varies between 16 and 18°C in Assam whereas in Orissa it is between 25 to 28°C. The humidity in Orissa is high—around 70 to 75 per cent. So the real challenge was to see whether it could be grown in these conditions.
Read more...

1 Mar 2010

KEHIDUPAN LEBAH MADU YANG MENAKJUBKAN


Lebah adalah serangga mungil yang tidak mampu berpikir. Akan tetapi mereka mampu menyelesaikan sejumlah pekerjaan besar yang tak terbayangkan sebelumnya. Setiap pekerjaan tersebut membutuhkan perhitungan dan perencanaan khusus. Sungguh mengagumkan bahwa kecerdasan dan keahlian yang demikian ini ada pada setiap ekor lebah. Namun, yang lebih hebat lagi adalah ribuan lebah bekerjasama secara teratur dan terencana dalam rangka mencapai satu tujuan yang sama, dan mereka melaksanakan bagian pekerjaan mereka masing-masing secara penuh dan sungguh-sungguh tanpa kesalahan sedikitpun.
Kesulitan terbesar dalam pengorganisasian sekelompok orang untuk bekerja secara bersama adalah penyiapan jadwal kerja serta pembagian tugas dan tanggung jawab. Dalam sebuah pabrik, misalnya, terdapat struktur jabatan yang rapi di mana para pekerja melapor pada mandor, para mandor melapor pada insinyur, para insinyur melapor pada manajer pelaksana dan para manajer pelaksana melapor pada manajer umum. Pengoperasian pabrik yang efisien memerlukan banyak tenaga kerja dan dana; pembuatan rencana jangka panjang dan pendek; serta pengumpulan data statistik. Produksi dilakukan berdasarkan rencana produksi yang telah disiapkan sebelumnya, dan pengawasan kualitas dilakukan di setiap tahapannya. Setiap insinyur, manajer dan manajer pelaksana memperoleh pendidikan dan pelatihan khusus dalam jangka waktu tertentu sebelum ditempatkan pada posisi mereka masing-masing.
Akan tetapi, setelah segala persyaratan ini dipenuhi dan sistem organisasinya telah terbentuk, hanya beberapa ratus tenaga kerja saja yang mampu bekerja bersama secara harmonis.
Demikianlah, pembentukan kerja sama di antara beberapa ratus manusia cerdas dengan gagasan mereka masing-masing memerlukan perencanaan yang rumit dan biaya mahal. Namun, puluhan ribu lebah mampu membangun sistem organisasi sempurna yang tak tertandingi oleh masyarakat manusia.
Tidak seperti manusia, lebah tidak mendapatkan pendidikan atau pelatihan apapun. Begitu lebah lahir, ia dengan segera melaksanakan tugas yang dibebankan padanya.
Karyawan pabrik bekerja untuk mendapatkan gaji pada akhir bulan. Sementara itu, seekor lebah tidak memperoleh keuntungan pribadi dari pekerjaan yang ia lakukan. Pekerjaan yang dilakukan karyawan pabrik, baik sebagai pekerja biasa ataupun manajer pelaksana, terbatas hanya pada jam kerja tertentu dan mereka berhak mendapatkan masa liburan. Sebaliknya, lebah bekerja sepanjang hidup, tanpa istirahat, demi kepentingan dan kebaikan sesamanya.
Rata-rata, sekitar 60-70 ribu lebah hidup dalam sebuah sarang. Walaupun populasi yang demikian padat, lebah mampu melakukan pekerjaannya secara terencana dan teratur rapi.
Suatu koloni lebah umumnya terdiri dari lebah pekerja, pejantan dan ratu. Lebah pekerja boleh dikata mengerjakan seluruh tugas dalam sarang. Sejak saat dilahirkan, para lebah pekerja langsung mulai bekerja, dan selama hidup, mereka melakukan berbagai tugas yang berganti-ganti sesuai dengan proses perkembangan yang terjadi dalam tubuh mereka. Mereka menghabiskan tiga hari pertama dalam hidup mereka dengan membersihkan sarang.
Kebersihan sarang sangatlah penting bagi kesehatan lebah dan larva dalam koloni. Lebah pekerja membuang seluruh bahan berlebih yang ada dalam sarang. Saat bertemu serangga penyusup yang tak mampu mereka keluarkan dari sarang, mereka pertama-tama membunuhnya. Kemudian mereka membungkusnya dengan cara menyerupai pembalseman mayat. Yang menarik di sini adalah dalam pengawetan ini lebah menggunakan bahan khusus yang disebut “propolis”. Propolis adalah suatu bahan istimewa karena sifatnya yang anti bakteri sehingga sangat baik digunakan sebagai pengawet.
Bagaimana lebah tahu bahan ini adalah yang terbaik sebagai pengawet, dan bagaimana mereka mampu menghasilkannya dalam tubuh mereka ?
Propolis adalah bahan yang hanya dapat dihasilkan dalam kondisi laboratorium dengan teknologi dan tingkat pengetahuan ilmu kimia yang cukup tinggi. Nyata bahwa lebah sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang ini, apalagi laboratorium dalam tubuhnya.
Lebih jauh lagi, lebah pekerja bertanggung jawab memeriksa sel–sel yang akan digunakan sang ratu untuk meletakkan telurnya. Selain itu, lebah pekerja juga bertugas mengumpulkan kotoran yang ada dalam sel-sel yang telah ditinggalkan oleh para larva yang telah lahir, serta membersihkan sel penyimpan makanan. Lebah–lebah tersebut juga mengatur kelembaban dan temperatur di dalam sarang, jika dibutuhkan, dengan kipasan angin melalui kepakan sayap mereka pada pintu masuk sarang.
Penting untuk diketahui bahwa seluruh tugas yang membutuhkan spesialisasi ini dilakukan oleh lebah pekerja berumur 3 hari yang bertanggung jawab dalam kebersihan.
Lebah pekerja menghabiskan waktunya setelah 3 hari pertama tersebut dengan merawat para larva. Saat mereka menjadi lebih dewasa, beberapa kelenjar sekresi dalam tubuh mereka mulai berfungsi; ini memungkinkan mereka untuk merawat larva. Seluruh tugas yang berhubungan dengan perawatan larva ini dikerjakan oleh lebah pekerja yamg berumur 3 sampai 10 hari. Mereka memberi makan sebagian larva dengan royal jelly, dan sebagian lagi dengan campuran madu-serbuk sari. Mahluk hidup yang baru lahir ini telah mengetahui tugas yang menjadi tanggung jawabnya dan memiliki pengetahuan untuk mengerjakannya dengan cara yang sangat profesional.
Sang lebah berganti tugas saat ia tumbuh lebih dewasa. Ketika mencapai hari ke 10 dari masa hidupnya, kelenjar penghasil lilin dalam perut lebah pekerja mendadak telah matang sehingga ia mampu menghasilkan lilin. Pada saat itulah seekor lebah menjadi pekerja pembangun sel-sel penyimpan madu dengan menggunakan lilin.
Fenomena ini memunculkan banyak pertanyaan. Bagaimana mungkin seekor makhluk hidup yang baru saja lahir, dan, lebih dari itu, yang tidak memiliki kecerdasan dan pengetahuan ini benar-benar memahami seluruh tugas yang menjadi tanggung jawabnya? Bagaimana tubuh seekor hewan tiba–tiba dapat teradaptasikan untuk merawat dan memberi makan larva dengan berfungsinya beberapa kelenjar sekresi, padahal sesaat sebelumnya ia terprogram untuk melakukan tugas kebersihan? Bagaimana seekor lebah, yang 4 atau 5 hari sebelumnya adalah larva, dapat berpikir dan merencanakan segala tugasnya tersebut? Bagaimana tubuhnya dapat dengan tiba–tiba menghasilkan lilin dan berubah menjadi pekerja konstruksi? Padahal konstruksi bangunan ini didasarkan pada penghitungan rumit dan sangat tepat, yang tak akan mampu dilakukan oleh manusia sekalipun.
Tidak ada keraguan, tidaklah mungkin lebah itu sendiri yang melakukan perhitungan berdasarkan kecerdasannya sendiri. Begitulah, ini adalah bukti nyata bahwa setiap fase dalam hidupnya, lebah tunduk pada hikmah dan kekuasaan Penciptanya. Lebah menjalani setiap saat dalam hidupnya dengan ilham yang diberikan oleh Allah, Pencipta Yang Mahaperkasa. (source: HarunYahya)
Read more...