Pages

Banner 468 x 60px

.
Tampilkan postingan dengan label Opini THL TBPP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini THL TBPP. Tampilkan semua postingan

24 Apr 2013

Quo Vadis THL TBPP? (Surat Terbuka Kepada Presiden SBY)

4 komentar
S. B. Yudhoyono @SBYudhoyono
Presiden SBY : “Mendengar itu menyempurnakan kepribadian.”
6:45 a. m. Wed, Apr 17
K e p a d a
Yang Mulia Bapak Presiden Republik Indonesia
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
di J a k a r t a
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu
Teriring salam sejahtera serta harapan dan do’a semoga Bapak Presiden dan Ibu Negara – beserta Putera-Putera, Puteri-Puteri Menantu dan Cucu-Cucu Tercinta – senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat dan selalu dalam lindungan dan rahmat-NYA sehingga dapat lancar beraktivitas sesuai agenda yang telah direncanakan. Aamiin Ya Rabbal alamin
Sebenarnya sudah lama terbersit keinginan untuk mengirim ‘surat curhat’ ini kepada Bapak sebagai Pemimpin Tertinggi dalam Struktur Lembaga-Lembaga Kenegaraan di mana Negara merupakan tempat bernaung secara konstitusional bagi segenap komponen warga bangsa. Dalam konteks demikian maka Negara pun merupakan tempat jujukan pengaduan bilamana ada sebagian anak bangsa memiliki sejumput aspirasi dan harapan. Akan tetapi secara ‘psikologis perorangan’ ternyata sangat tidak mudah. Saya harus mencicil (baca : mengumpulkan) sedikit demi sedikit potongan-potongan nyali untuk dipadukan secara utuh, merangkum dan menyempurnakan bahan-bahan semampu saya, lalu bersabar mencermati dan menunggu saat yang tepat untuk melaksanakannya. Alhamdulillah, momen itu akhirnya tiba ketika Bapak Presiden secara resmi membuka akun di media sosial Twitter. Kesimpulan sederhana saya adalah apabila seseorang telah membuka akun di media sosial maka artinya yang bersangkutan telah menyediakan diri untuk berinteraksi secara terbuka dengan segenap ‘warga penghuni’ media sosial tersebut. Karena itulah pada saat Bapak benar-benar membuka akun resmi Twitter beberapa hari yang lalu, sayapun bulat mengartikan bahwa Bapak Presiden telah siap membuka diri untuk berinteraksi – tentunya dalam kaidah dan etika berkomunikasi santun dan bertanggung jawab – dengan warga penghuni Negeri Twitter, termasuk dengan saya sebagai salah satu dari 1.409.827 pemilik akun Twitter yang menjadi pengikut akun Twitter Bapak Presiden (catatan angka pengikut per hari Minggu, 21 April 2013 – 15:07 WIB). Akhirnya saya berketetapan hati untuk mewujudkan niat lama yang tertunda ini : berkirim surat kepada RI-1 untuk menyampaikan sedikit aspirasi dan harapan.
Bapak Presiden, saya adalah salah satu dari 23.000 ribu lebih personil Tenaga Harian Lepas (THL) Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (TBPP) yang tersebar dan bekerja di seantero wilayah Nusantara. Sehari-hari bertugas mendampingi dan berinteraksi dengan para petani di wilayah binaan masing-masing. Dalam konteks keseluruhan THL TBPP, saya akan menggunakan kata kami pada penuturan selanjutnya.
Kecuali bagi Kelompok Tani dan Gabungan Kelompok Tani binaan dan pihak-pihak terkait, kami mengakui keberadaan THL TBPP belum begitu dikenal pada lingkup masyarakat luas. Yang mungkin terjadi adalah dalam anggapan mereka, kami THL TBPP ini adalah bagian dari Penyuluh Pertanian PNS karena tupoksi, kewenangan pelaksanaan tugas dan penampilan antara keduanya tidak ada perbedaan. Padahal sesungguhnya status kami adalah Tenaga Penyuluh Pertanian Kontrak.
Jika pada umumnya masyarakat belum mengenal status kami, tentu tidak demikian dengan Bapak Presiden. Dalam catatan kami, Bapak pernah menerima perwakilan THL TBPP Angkatan I (2007) di Istana Bogor pada awal tahun tersebut dalam rangka pelepasan mereka secara simbolis untuk mulai melaksanakan tugas-tugas di lapangan. Oleh karena itu kami tetap yakin bahwa THL TBPP telah tertulis dalam lembar-lembar catatan Bapak, meskipun mungkin saja lembar-lembar itu saat-saat ini sedang terselip.
Sejujurnya pada awal kami direkrut dan memulai tugas, muncul ekspektasi yang tinggi di internal kami bahwa pada saatnya nanti akan ada kebijakan yang memperjelas status kepegawaian kami dari status Tenaga Kontrak Penyuluh Bantu menjadi Penyuluh Pertanian dengan status penuh dan bersifat pegawai tetap. Ekspektasi ini kian menguat pada saat acara Jambore Penyuluh Nasional di Cibodas pada tahun 2008. Bapak Presiden yang berkesempatan hadir pada saat sesi dialog memberikan arahan lisan kepada Menteri Pertanian dan Menteri PAN (sekarang MenPAN-RB) untuk mengatur sebaik-baiknya penyelesaian status bagi THL TBPP.
Kini 6 (enam) tahun sudah berlalu sejak Angkatan I dari kami direkrut pada tahun 2007 atau 7 (tujuh) tahun setelah Undang-Undang No. 16 tentang Sistem Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (UUSP3K) diterbitkan pada tahun 2006 maupun 8 (delapan) tahun sejak gegap gempita tekad besar Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK) dicanangkan pada tahun 2005. Hampir sepanjang rentang waktu ini kami THL TBPP telah bahu membahu saling mendukung dan bersama Penyuluh Pertanian PNS untuk mengawal program-program pembangunan pertanian di pedesaan dari sisi pendekatan pengawalan dan pendampingan petani (Kelompok Tani dan Gabungan Kelompok Tani). Konkretnya 3 (tiga) tahun kami telah bersama pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) I, 2007 – 2009 dan kebersamaan itu dilanjutkan pada periode pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, 2010 -2013. Sejenak kami berhenti sambil merenung pada titik waktu saat ini, yakni kurang dari 2 (dua) tahun menjelang tutup tahun pemerintahan KIB II ini yakni pada tahun 2014. Kementerian Pertanian sebagai induk dan pusat pengelola penyelenggaraan kegiatan kami – melalui statemen para Pejabat Tingginya – memang pernah menjamin bahwa kami tetap akan dikontrak hingga tahun anggaran 2014. Tapi tidak ada yang menjamin dengan pasti bagaimana kelanjutan kegiatan kami setelah tahun tersebut. Satu hal yang belum kami lakukan adalah bertanya secara resmi dan langsung kepada Bapak Presiden sebagai Kepala Pemerintahan KIB II.
Bapak Presiden, terus terang pada saat ini ada ‘keresahan kolektif’ bersemayam di dada para THL TBPP se-Indonesia dalam menyikapi ketidakpastian kebijakan periode pemerintahan baru pasca Pemilu 2014 nanti. Namun bukan berarti kami diam berpangku tangan. Sejak awal – pada sekitar tahun 2008/2009 – komunitas THL TBPP se-Indonesia secara sadar menghimpun diri dalam organisasi komunitas bernama FORUM KOMUNIKASI (FK) THL TBPP pada jenjang nasional, provinsi dan kabupaten/kota. Lewat FK THL TBPP ini serangkai upaya telah, sedang dan akan terus kami lakukan demi tercapainya kejelasan status kepegawaian THL TBPP. Meskipun sampai sejauh ini belum ada hasil berupa titik terang yang pasti, kami tetap meneguhkan tekad, memelihara dan memupuk optimisme sambil secara berkala mengevaluasi dan memperbaharui cara-cara pendekatan kami. Sungguh kami merasa bahwa kami telah melalui rangkaian rute perjalanan berat, sulit dan berliku. Teman-teman kami para pegiat FK THL TBPP semua tingkatan siap menjadi saksi atas pernyataan ini. Dalam hal ini bukan kami bermaksud mengeluh, melainkan kami sangat memfavoritkan dan menggaris bawahi salah satu Tweet Bapak Presiden :
S. B. Yudhoyono @SBYudhoyono
“Tidak pernah ada jalan yang mudah dan lunak untuk mencapai cita-cita yang besar. Mari terus berjuang dan bekerja keras.
*SBY* 6:03 a.m. Thu, Apr 18
Kami sepaham dan sepakat dengan esensi dan substansi “kicauan” tersebut dalam konteks proses yang umumnya terjadi secara alamiah, tapi tentu bukan dalam konteks yang sering diplesetkan oleh candaan ‘publik’ – kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah ?
Mengapa kami tetap bertahan, padahal mungkin oleh sebagian kalangan kami dianggap ngotot atau dalam ungkapan lain ’bermimpi’ ? Tidak lain karena kami yakin – HAQQUL YAQIN – dengan 2 (dua) dasar : 1. Undang-Undang No. 16 Tahun 2006 (UUSP3K), pada Ketentuan Jenis Penyuluh dan Pasal 20 ayat 2 beserta Penjelasannya, dan 2. Pasal 16 A Undang-Undang No. 43 Tahun 1999, yang jejak aliran kebijakannya dapat kami telusuri dan ikuti hingga peraturan pelaksana setingkat Peraturan Menteri.
Ketentuan dan Pasal terkait UUSP3K di atas telah mengamanatkan serta mengarahkan kebijakan pengangkatan dan penempatan Penyuluh PNS kemudian menekankan secara khusus dalam Penjelasannya bahwa pengangkatan Penyuluh PNS harus menjadi prioritas oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk mencukupi kebutuhan tenaga Penyuluh PNS.
Pada sisi lain Pasal 16 A Undang-Undang No. 43 Tahun 1999 sangat jelas mengamanatkan pengangkatan langsung menjadi PNS bagi mereka yang telah bekerja pada instansi yang menunjang kepentingan nasional demi memperlancar pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan. Proses seleksi yang mengatur mekanisme pengangkatan langsung tersebut merujuk pada ketentuan dasar bahwa mereka dipandang telah berjasa dan diperlukan bagi Negara.
Bagi THL TBPP, yang sejarah perekrutannya tidak bisa dipisahkan dari rangkaian pencanangan Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (RPPK), pemenuhan amanat UUSP3K dan implementasi Revitalisasi Penyuluhan Pertanian, cukup memiliki sejumlah fakta bahwa kami telah memenuhi ketentuan dasar Pasal 16 A Undang-Undang No. 43 Tahun 1999. Karena itu wajar jika kami meyakini bahwa THL TBPP adalah salah satu pewaris sah Pasal penting tersebut.
Masalahnya kemudian, pada peraturan pelaksana setingkat Peraturan Pemerintah kesempatan kami terhalang kriteria yang tidak relevan karena tidak berbasis perkembangan kondisi obyektif dinamika perekrutan tenaga-tenaga tertentu yang dibutuhkan oleh Negara tetapi perekrutannya terjadi setelah tahun 2005. Sebagai catatan, THLTBPP direkrut pada rentang waktu tahun 2007 – 2009. Pada titik inilah kami mempertanyakan ketentuan pada kategori ke-4 Peraturan Pemerintah No. 56 Tahun 2012 yakni Pasal 5 ayat 4 yang mengurai batas usia dan masa kerja berdasarkan patokan waktu statis yakni per 1 Januari 2006 , yang kemudian menghalangi kami untuk bisa masuk pengaturan pengangkatan langsung menjadi PNS melalui mekanisme KEPRES sebagaimana dijabarkan secara teknis pada Lampiran Permenpan No. 233 Tahun 2012. Bagi kami yang terpenting untuk digarisbawahi adalah ketentuan dasar kategori ke-4 PP No. 56 Tahun 2012 yang menyebut tenaga-tenaga tertentu yang dibutuhkan oleh Negara tapi tidak tersedia atau tidak cukup tersedia (masih kekurangan) di kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Fakta bahwa kami yang direkrut sejak tahun 2007 dan sampai tahun anggaran 2013 tetap dipekerjakan serta akan tetap diproyeksikan pada tahun anggaran 2014 tentu merupakan bukti nyata bahwa kami memenuhi kriteria sebagai tenaga-tenaga tertentu yang dibutuhkan atau diperlukan oleh Negara tersebut karena kekurangan tenaga Penyuluh Pertanian PNS.
Bapak Presiden, tentu bukan pada tempatnya apabila kami berpanjang lebar unjuk ketentuan Pasal-pasal PP lebih detil ke hadapan Bapak. Pada intinya kami hanya ingin menyampaikan pandangan bahwa perlu peninjauan kembali terhadap beberapa ketentuan yang menyangkut batasan kategori ke-4 (kategori selain K I, K II dan Dokter pada daerah terpencil). Dalam hubungan ini kami menyambut baik dan mendukung sepenuhnya esensi dukungan PERHIPTANI (Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia) kepada THL TBPP lewat Surat yang dikirim kepada MenPAN-RB tertanggal 20 Maret 2013 dimana salah satu poin usulannya adalah :
“Mengangkat THL TBPP yang memiliki persyaratan menjadi CPNS dengan payung hukum PP atau melakukan pengangkatan baru dengan memprioritaskan THL TBPP”
Kami sangat berterima kasih dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada PERHIPTANI atas prakarsa usulan tersebut. Kami merasa bahwa PERHIPTANI berada dalam frekuensi yang sama dengan THL TBPP dalam hal perlunya THL TBPP diproyeksikan menjadi Penyuluh Pertanian PNS demi menjaga dan memastikan kesinambungan generasi Penyuluh Pertanian. Namun demikian realitanya adalah jika PP No. 56 Tahun 2012 masih dalam bentuk yang utuh seperti saat ini, maka tidak ada seorangpun diantara kami yang memenuhi persyaratan untuk diangkat menjadi PNS karena ketentuan Pasal 5 ayat 4.
Maka jalan tempuh yang mungkin untuk dilakukan guna memenuhi usulan tersebut adalah dengan merevisi ketentuan terkait yang menjadi penghalang bagi THL TBPP atau merancang mekanisme pengangkatan baru yang memprioritaskan terakomodasinya THL TBPP.
Bapak Presiden, bagaimanapun kami harus bersikap proporsional. Pada satu sisi kami wajib bersyukur kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa dan berterima kasih serta memberikan apresiasi yang tinggi kepada Pemerintah di bawah kepemimpinan Bapak sejak KIB I hingga saat ini, karena telah memberi kesempatan kepada kami – 23.000 THL TBPP se-Indonesia untuk mengabdi pada proses pengawalan program-program pembangunan pertanian. Namun pada sisi lain kami tetap perlu mendorong aspirasi ini demi memperkuat kesatuan dan kesinambungan komponen penyuluh pertanian Indonesia.
Kami tidak pernah bermaksud hendak berhadap-hadapan dengan KemenPAN-RB, Kementan, BKN dan Kemendagri apalagi dengan Lembaga Kepresidenan. Tapi yang kami inginkan adalah adanya kesamaan cara pandang terhadap problem status kepegawaian yang kami hadapi. Maka apapun bentuk penyampaian aspirasi yang mungkin akan kami lakukan lewat agenda resmi Forum Komunikasi THL TBPP pada dasarnya hanyalah dan tetaplah bertitik tolak dari 2 (dua) dasar hulu kebijakan di atas yakni Undang-Undang No. 16 Tahun 2006 (Ketentuan Jenis Penyuluh dan Pasal 20 ayat 2 beserta penjelasannya) serta Undang-Undang No. 43 Tahun 1999 (Pasal 16 A).
Ijinkan kami mengibaratkan Pemerintah di bawah kepemimpinan Bapak Presiden sebagai busur kebijakan yang tengah membidikkan kami THL TBPP sebagai anak panah ke arah titik bidang sasaran tertentu. Kami sangat mengharapkan agar bidikan itu diarahkan pada titik terbaik dan tepat serta dilakukan sebelum periode pemerintahan KIB II ini usai. Kami sungguh sangat tidak berharap periode ini terlewati tanpa kepastian kebijakan apapun bagi kami. Bagaimanapun – jika hal demikian yang terjadi - maka publik akan menilai bahwa pada akhirnya kami THL TBPP hanyalah merupakan produk kebijakan yang terbengkalai alias tanpa penyelesaian akhir yang semestinya.
Tetapi kami yakin dan berharap pada satu hal, sebagaimana ditegaskan oleh Presiden Amerika Serikat ke-33 Harry S Truman (1945 – 1953) : “semua urusan selesai di meja Presiden”. Bapak Presiden lah tumpuan harapan terakhir kami, 23.000 THL TBPP se-Indonesia di bawah perkenan dan ridha Allah SWT.
Bapak Presiden, demikian tutur cerita cukup panjang yang dapat kami sampaikan pada Bapak. Mohon maaf apabila di dalamnya banyak terselip untai kata yang kurang sepatutnya. Kami berharap dan ikut berdo’a dengan tulus agar KIB II di bawah kepemimpinan Bapak Presiden dapat menyelesaikan agenda-agenda pemerintahan dengan tuntas dan sempurna hingga akhir periode pemerintahan.
Tidak lupa kami mengucapkan Selamat Hari Kartini kepada Ibu Negara Hj. Ani Yudhoyono, Para Puteri Menantu, Cucu Tercinta “Kartini Kecil” Almira Tungga Dewi Yudhoyono, Ibu-Ibu/Istri-Istri Menteri KIB II, Para Wanita Indonesia seluruhnya tanpa kecuali, Ibu-Ibu kami tercinta, Saudara-Saudara Perempuan kami tercinta, Istri-Istri dan Anak-Anak Perempuan kami tercinta serta tentu saja rekan-rekan kami Para Srikandi THL TBPP yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Sangat relevan kiranya semboyan Hari Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang” untuk diucapkan pada saat ini sebagai bentuk dukungan demi terwujudnya sebuah harapan bagi masa depan yang lebih baik.
Sekian.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakutuhu
Bumi Nusantara, 21 April 2013
Salam Takzim
NUR SAMSU
THL TBPP 2008
Tembusan
Kepada Yth :
1. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi di Jakarta
2. Menteri Pertanian di Jakarta
3. Menteri Dalam Negeri di Jakarta
4. Badan Kepegawaian Negara di Jakarta
5. Ketua Badan Koordinasi Penyuluhan Nasional di Jakarta
6. Ketua Umum PERHIPTANI di Jakarta
7. Ketua Umum Forum Komunikasi THL TBPP Nasional di Jakarta

Read more...

14 Apr 2010

AKU BERTANYA

Aku bertanya pada terik matahari tengah hari, ‘Apa yang engkau sukai?’

Ia menjawab, “ Aku senang melihat jemuran ibu-ibu rumah rumah tangga pada kering, gabah-gabah petani yang dijemur menjadi siap giling, tanaman-tanaman tumbuh dan berkembang dengan sehat dan – meski aku kasihan – aku bangga pada para petani yang tetap tekun bekerja di sawah dengan keringat bercucuran karenaku … Sungguh, alangkah mulianya tetesan-tetesan keringat mereka

Aku bertanya pada hujan yang turun teratur, ‘Apa yang engkau sukai?’

Ia menjawab, “Aku senang karena aku bisa turun kembali ke permukaan bumi setelah aku naik dan menggantung di angkasa.. Sebagian-ku menyerap ke bawah permukaan tanah, menjadi air tanah yang kemudian diminum oleh segenap makhluk hidup yang butuh minum serta untuk keperluan lain melalui mata air, sumur galian maupun yang tersalurkan lewat jaringan pipa PDAM serta air-air dalam kemasan .. Sebagian-ku lagi mengalir dari mata air atau limpasan permukaan menuju sungai-sungai utama, kemudian terbagi ke jaringan primer, sekunder dan tersier hingga sampailah aku ke petak-petak sawah petani .. Aku membasahinya dan aku senang melihat tanaman-tanaman yang tumbuh dan berkembang sehat di atasnya .. Sungguh aku senang dan bersyukur telah menjadi bagian penting dari sesuatu yang tumbuh dan kemudian menjadi sesuatu yang sangat diperlukan bagi keberlangsungan segenap makhluk hidup di muka bumi ini

Aku bertanya pada angin yang berhembus sepoi, ‘Apa yang engkau sukai?’

Ia menjawab, “Aku senang karena bisa menyegarkan hamba Allah yang kegerahan (sumuk, jare wong Jowo), aku senang bisa membantu percikan api membakar kayu bakar ibu-ibu petani yang masak di dapur, dan aku bangga serta bersyukur karena telah mampu membawa terbang awan ke mana Tuhanku perintahkan untuk menjadi hujan di mana Ia tentukan

Aku bertanya pada api, ‘Apa yang engkau sukai?’

Ia menjawab, “Aku senang karena telah menjadi simbol energi yang telah membuat busi sepeda motor, mobil, dan lain-lain mampu menggerakkan mesin-mesinnya sehingga manusia bisa menikmati dan menggunakan sarana-sarana itu untuk mendukung aktivitas mereka .. Aku senang karena dengan sifatku masakan ibu-ibu menjadi enak untuk dinikmati suami dan anak-anak mereka, baik apakah aku dalam wujud nyala api kayu bakar, kompor minyak tanah maupun kompor gas .. Aku senang karena telah membakar batubara hingga bisa mengkondisikan uap air yang mampu menggerakkan turbin pembangkit listrik tenaga uap .. Dengan tenaga listrik, dunia ini menjadi semarak dengan berbagai aktiivitas .. (ingat, jika listrik padam maka Anda-anda yang suka OL di FB ini akan menggerutu karena PC Anda off tiba-tiba atau hape Anda tidak bisa di-charge .. Ya kan, he he ..)

Aku bertanya pada tanah (baca : permukaan bumi), “Apa yang engkau sukai?’

Ia menjawab, “Segala yang berat-berat tertimpa padaku .. Manusia berjalan hilir mudik dan kini jumlahnya mencapai 6 milyar lebih (benar nggak, kalau salah dikoreksi ya ..), hewan dan ternak yang berkeliaran mencari pakan, kendaraan-kendaraan ringan dan berat yang berlalu lalang di jalan-jalan, rumah-rumah, gedung-gedung dan bangunan-bangunan pencakar langit .. Ah, semuanya sungguh berat tak terkira .. Yah, akulah penopang sejati segala yang ada, segala yang diam dan segala yang bergerak di atasku .. Mereka semua berasal dariku dan aku merindukan mereka semua hingga pada suatu saat semuanya kembali pada ‘pelukan’ ku .. (Hiiirrrrrrrhhh, ngeri ..)

Lalu aku berjalan dan akhirnya bertemu sekumpulan orang-orang yang menamakan dirinya Tenaga Harian Lepas – Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP), ‘Apa yang kalian sukai?’

Mereka sepakat menjawab, “Kami senang dan bangga karena telah mendapatkan kesempatan untuk mengabdikan ilmu dan keahlian kami sesuai disiplin ilmu yang kami miliki ..”

‘Lalu apa harapan kalian?’, lanjutku

Mereka sepakat menjawab (dan kali ini lebih kompak), “Kami tentu sangat berharap agar kesempatan ini terus berlanjut. Kami ingin agar ruang pengabdian kami lebih optimal sehingga kinerja kami lebih maksimal. Sebagai manusia biasa kami ingin hidup dalam situasi dan kondisi yang lebih pasti. Tentu wajar dan tidak munafik bahwa kami menginginkan status profesi kami lebih pasti dari sekedar menjadi Tenaga Kontrak menjadi PNS. Itu adalah suatu kebanggaan bagi kami, karena itu bermakna kompetensi, peran dan keberadaan kami diakui secara total .. Kami telah menancapkan bendera pengabdian kami dan janganlah kami dihadapkan pada situasi dan kondisi yang membuat kami surut langkah ..
Dadaku terkesiap dan hatiku bergetar dengan jawaban tegas mereka .. Dengan penuh empati dan simpati, kujabat tangan mereka tangan seraya kukatakan , “ Bersabarlah semoga Allah berkenan menuntun tekad dan perjalanan kalian dan semoga Dia berkenan pula mengetuk hati para penentu kebijakan yang menentukan nasib kalian, hingga menjadi jelas dan terang benderang status kalian ke depan .. Jangan putus asa dan TETAP SEMANGAT.’

Aku kembali bertanya, ‘Apa yang kalian tidak sukai?’

Mereke lagi-lagi menjawab kompak, ‘Kami benci (baca : tidak suka) ketidakpastian dan sesuatu yang molor-molor ..’

‘Apa itu’, sergahku

Mereka menjawab setengah berteriak, ‘Ketidakpastian nasib dan honor yang terlambat …’
Lalu dengan susah payah kucari dan akhirnya ketemu dengan honor THL-TBPP itu dan kutanya, “Wahai Honor Sihonor, kenapa engkau terlambat menemui mereka padahal engkau sangat ditunggu-tunggu?’
Si Honor diam, tapi ia meminta secarik kertas dan ballpoint. Kuberikan, maka iapun menulis dengan lancar, “Lidahku kelu, tenggorokanku tersekat, bibirku sariawan, aku panas dalam .. AKU NGGAK BISA JAWAB !!!!!!!’
(kontributor :Ir. Nur Samsu, THL-TBPP 2008 BPP Paiton – Kabupaten Probolinggo untuk http://thl-tbpp.blogspot.com/)
Read more...

13 Feb 2010

KAMI BANGGA KEPADA ANDA, PARA PENDEKAR THL-TBPP

Bulan-bulan ini, Januari dan Pebruari 2010, para Tenaga Harian Lepas – Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) tetap sibuk dengan tugas-tugas rutin melakukan pendampingan pada Kelompok Tani (Poktan) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) binaannya. Lho, bukankah kontrak kerja mereka hanya sampai akhir Nopember 2009 dan akan diperbaharui dengan kontrak kerja baru per 1 Maret hingga 31 Desember 2010? Sebagian dari teman-teman ini, seperti di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur mendapatkan honor dari Pemda untuk “bulan-bulan non kontrak Pusat yaitu Januari dan Desember 2009”. Tetapi tidak semua Pemerintah Kabupaten/Kota memberi perlakuan demikian, dus tidak semua teman-teman THL-TBPP se-Indonesia mendapatkan honor dari Pemda masing-masing pada “bulan-bulan non kontrak Pusat”. Teman-teman ini berpandangan, bulan-bulan Desember, Januari dan Pebruari adalah bulan-bulan sibuk petani menghadapi musim tanam padi. Mereka rupanya tidak tega meninggalkan petani di saat-saat paling membutuhkan pendampingan. Demikian juga pada bulan Desember 2009, Januari dan Pebruari 2010. Meski bulan-bulan ini bukan bulan kontrak Pusat, teman-teman THL-TBPP tetap setia dengan tugas “ekstra” mendampingi petani, tanpa terlalu memikirkan apakah nanti akan mendapatkan honor dari Pemda seperti tahun lalu atau tidak.
      Dalam minggu-minggu ini, sebagian dari mereka dalam kapasitas sebagai utusan dari berbagai daerah dan tergabung dalam Forum Komunikasi (FK) THL-TBPP Nasional berangkat ke Jakarta untuk sebuah kepentingan besar. Kita sebut kepentingan besar, karena tujuannya melampaui kepentingannya sendiri. Mungkin sudah berminggu-minggu teman-teman kita ini di sana. Mereka sekelompok THL-TBPP, yang tidak berhitung hanya untuk kepentingan diri sendiri. Mereka melakukan lobi-lobi kepada para wakil rakyat dan para pejabat pusat terkait. Ini semua butuh biaya operasional, paling tidak untuk makan, transportasi dan penginapan. Mereka ke Jakarta pada bulan-bulan non kontrak alias saat-saat tidak mendapat honor. Sungguh mereka adalah pendekar-pendekar gigih, yang berjuang demi visi jauh ke depan.
      Apa tujuan besar itu? Apa yang diinginkan sekelompok THL-TBPP ini? Mereka ke Jakarta membawa misi THL-TBPP se-Indonesia, yaitu berjuang demi terbitnya Peraturan Pemerintah yang mengakomodir para THL-TBPP untuk diangkat secara khusus menjadi PNS. Jika dilihat secara sepintas ini seperti kepentingan para THL-TBPP sendiri. Memang ya, tapi dalam pengertian agar para petugas ini lebih optimal lagi dalam menyalurkan pengabdiannya dengan status yang jelas (PNS). Lebih jauh lagi, perjuangan teman-teman ini sebenarnya adalah bentuk pengawalan yang konkret atas tekad Pemerintah sendiri di awal periode 2004-2009 yang akan mengkondisikan komposisi 1 penyuluh : 1 desa dan 1 desa : 1 penyuluh. Ini adalah bentuk kesadaran yang tinggi bahwa eksistensi penyuluh pertanian dan segala kiprahnya merupakan salah satu pilar kesuksesan pembangunan pertanian Indonesia.
      Ya, kita menyadari betul bahwa bobot dan urgensi sektor pertanian, sekurang-kurangnya setara dengan pendidikan dan kesehatan, dalam konteks kepentingan nasional. Jangan bicara pendidikan dan kesehatan jika perut lapar. Begitulah kira-kira sederhananya. Karena itu sudah sepatutnya jika kita terus mendorong agar penetapan skala prioritas pembangunan pertanian setara dengan kedua bidang yang disebut terakhir. Apalagi beban sektor pertanian ke depan akan semakin berat. Nah, apa yang sedang teman-teman kita perjuangkan saat ini adalah dalam kerangka pembangunan pertanian sebagaimana telah dirancang oleh Pemerintah sendiri, yakni agar revitalisasi penyuluh pertanian dapat terwujud dan seiring sejalan dengan 6 (enam) gema revitalisasi pertanian yang lain. (Sebagai catatan, Kementerian Pertanian RI mencanangkan program 7 (tujuh) gema revitalisasi).
      Ada berita lain yang cukup menggembirakan dan menambah semangat kita untuk terus berjuang. Pada saat peresmian secara simbolis 354 Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di Desa Kalianyar, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon Sabtu, 6 Pebruari 2010 Menteri Pertanian Suswono menyatakan pemerintah berencana mengangkat petugas THL-TBPP menjadi PNS. Kita patut berprasangka baik pada kehendak mulia ini dan berharap agar pernyataan Bapak Menteri di atas bukan sekedar pernyataan yang menghibur. Kita wajib mengawal rencana tersebut secara sistematis dan terkoordinasi dengan baik, agar secepatnya keluar kebijakan konkret dalam bentuk peraturan resmi yang mengatur proses peralihan status THL-TBPP menjadi PNS. 
      Karena itu, kepada teman-teman THL-TBPP se-Indonesia, marilah kita berikan dukungan penuh kepada Pendekar-Pendekar kita ini agar mereka terus berjuang hingga tujuan tercapai. Sekali lagi, HINGGA TUJUAN TERCAPAI! Mari kita yakinkan diri kita semua bahwa perjuangan ini berada pada jalur yang benar, yakni demi eksistensi dan kebangkitan dunia pertanian Indonesia. Manakala kita tidak dapat bergabung dengan teman-teman yang gigih dan kita banggakan bersama di Senayan Jakarta, marilah kita sungguh –sungguh menggalang do’a, do’a bersama yang terbit dari setiap hati THL-TBPP yang penuh harap, dengan jiwa yang khusyuk agar perjuangan teman-teman ini membawa hasil gemilang. MAJU TERUS THL-TBPP! 
(kontributor :Ir. Nur Samsu, THL-TBPP 2008 BPP Paiton – Kabupaten Probolinggo untuk http://thl-tbpp.blogspot.com/)

Read more...

5 Nov 2009

Surat Terbuka Kepada Menteri Pertanian KIB II: THL-TBPP DI PERSIMPANGAN JALAN

0 komentar
Dua belas hari sudah para menteri dan pejabat negara setingkat menteri yang tergabung dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Negara, Jakarta. Dalam pidato setelah pelantikan itu SBY menegaskan para menteri KIB II harus mampu berpikir cerdas dan siap bekerja keras memenuhi tuntutan tugas. Bagi para Tenaga Harian Lepas - Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) se Indonesia, tentunya menteri yang paling ditunggu kinerjanya adalah Menteri Pertanian yang baru yaitu Ir. H. Suswono, MMA. Siapakah sosok pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 20 April 1959 ini?

Secuil Kisah dari Wisma Indraprasta, Bogor

Pada tahun 1983 penulis memasuki bangku kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai mahasiswa angkatan 20 melalui jalur Proyek Perintis II (PP II). Di tahun pertama (Tingkat Persiapan Bersama, TPB) penulis tinggal di kamar kontrakan bersama kakak kelas satu daerah di kelurahan Babakan Sirna, sekitar 350 meter utara Kampus Pusat IPB Baranang Siang. Karena hanya berdua, maka untuk urusan makan dan cuci pakaian kami bergabung dengan kumpulan anak-anak mahasiswa Tegal, Jawa Tengah yang mengontrak satu rumah. Mereka membuat papan nama pada rumah tersebut dengan tulisan "Wisma Indraprasta". Setiap hari rata-rata 3 kali kami wira-wiri antara kamar kontrakan dan Wisma tersebut. Dengan modal patungan dari 10 mahasiswa, selain makan dan cuci pakaian dengan jasa pembantu, kami bisa berlangganan salah satu koran nasional (Kompas).
Di antara teman-teman mahasiswa Tegal itu ada satu yang paling senior. Orangnya pendiam, berkacamata minus, kalau berbicara suaranya kecil, jernih dengan intonasi dan tekanan suara yang khas. Pada saat itu dia sedang merampungkan tugas akhirnya (skripsi). Namanya Suswono, kami memanggilnya Mas Sus, seorang mahasiswa Fakultas Peternakan IPB. Meski agak jarang berkomunikasi dengannya, penulis mengamati Mas Sus ini memiliki "kekuatan" dan kharisma tersendiri. Dalam kesehariannya, sebagaimana kami yang lain, Mas Sus merupakan representasi mahasiswa Kampus Rakyat. Kini, setelah Susunan KIB II diumumkan oleh Presiden SBY, penulis baru menyadari bahwa 26 tahun yang lalu penulis telah pernah bersama dengan seorang Calon Menteri Pertanian Periode 2009 - 2014.

Pukulan di Akhir Tahun

Pada tanggal 30 Oktober 2009, melalui situs resmi Departemen Pertanian (Deptan), Kepala Badan Pengembangan SDM Pertanian Dr. Ir. Ato Suprapto, MS menyampaikan pengumuman tertulis tentang berakhirnya kontrak kerja THL-TBPP Angkatan I Tahun 2007. Poin penting dari berita itu adalah Deptan tidak memperpanjang lagi kontrak kerja mereka. Meskipun sudah diprediksi berdasarkan berita-berita sebelumnya, tak pelak lagi realitas ini sangat memukul rekan-rekan THL-TBPP 2007. Sebagai THL-TBPP Angkatan II Tahun 2008, penulis merasa ikut prihatin dengan perkembangan terakhir ini. Alangkah baiknya sekiranya diadakan polling terlebih dahulu, untuk mengetahui kesiapan mereka atas pemutusan kontrak kerja ini. Namun, penulis meyakini sebagian besar, jika tidak semuanya, THL-TBPP 2007 tidak siap dengan berakhirnya kontrak kerja mereka.
Dalam sebuah kesempatan Menteri Pertanian Suswono menyatakan untuk program 100 hari beliau akan memprioritaskan pada akselerasi program 2009. Apakah penegasan pemutusan masa kotrak bagi THL-TBPP 2007 ini adalah bagian dari akselerasi itu? Alangkah cepatnya nasib rekan-rekan THL-TBPP I ini ditentukan.

Paradoks Kebijakan

Di depan Sidang Paripurna Khusus Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia, tanggal 19 Agustus yang lalu Presiden SBY menyampaikan Pidato Kenegaraan yang sangat memukau tentang Pembangunan Nasional dalam Perspektif Daerah. Tema pidato itu adalah "Pembangunan untuk Semua" (Development for All). Menurut Presiden pada hakikatnya pembangunan suatu bangsa harus bersifat inklusif, menjangkau dan mengangkat derajat seluruh lapisan masyarakat di seluruh wilayah nusantara. Salah satu pendekatan dari gagasan pembangunan untuk semua itu adalah penerapan konsep triple track strategy, yakni strategi yang pro-growth, pro-job, dan pro-poor. Esensi pembangunan untuk semua adalah pembangunan yang menitikberatkan pada kemajuan kualitas manusia. Manusia Indonesia bukan sekedar obyek pembangunan melainkan justru subyek pembangunan. Demikian pidato Presiden.
Kini, apa yang dialami rekan-rekan THL-TBPP Angkatan I 2007 sangat kontras dengan semangat pidato Presiden di atas. Salah satu tanda adanya peningkatan kualitas hidup adalah semakin terjaminnya rasa tenteram. Apa yang dirasakan rekan-rekan THL-TBPP 2007 saat ini adalah kegelisahan menatap masa depan, pasca berakhirnya kontrak kerja. Rasa itu tentu saja menular pada kami, THL-TBPP angkatan berikutnya, yaitu THL-TBPP 2008 dan 2009. THL-TBPP direkrut dan dilatih (baca: dipersiapkan) untuk menjadi pendamping masyarakat, petani. Selama 3 tahun THL-TBPP 2007 menunaikan tugas sesuai tupoksi. Spesifikasi dan kualifikasi kami sangat jelas yakni seorang pendamping! Jika kemudian di tengah jalan kondisi mengharuskan kami merubah spesifikasi dari seorang petugas pendamping menjadi seorang pelaku usaha, sungguh itu merupakan perubahan yang sangat berat. Di sinilah, strategi ke-enam dari konsep pembangunan untuk semua gagasan Presiden SBY itu diuji. THL-TBPP adalah bagian dari rakyat Indonesia, yang bukan sekedar obyek apalagi komoditas pembangunan, melainkan subyek pembangunan yang perlu ditangani secara komprehensif, tuntas dan manusiawi.
Di samping itu ada hal lain yang tidak kalah pentingnya. Sebagian dari rekan-rekan THL-TBPP 2007 itu, seperti juga sebagian THL-TBPP 2008, adalah pendamping program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP). BLM-PUAP adalah bantuan modal langsung dari pemerintah pusat pada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di desa untuk dikelola menjadi modal abadi yang terus tumbuh. Jika mereka (THL-TBPP pendamping PUAP) diputus kontraknya, bagaimana kelanjutan program PUAP? Apakah kita menginginkan program itu kandas di tengah jalan dan kucuran dana itu menguap tanpa bekas?
Hasil evaluasi Badan Pengembangan SDM Pertanian sendiri telah mengakui bahwa lebih dari 80 % THL-TBPP menunjukkan kinerja yang baik. Dapat dikatakan keberadaan THL-TBPP, dari angkatan I sampai III, telah memunculkan keseimbangan baru antara pendamping (penyuluh) dan pelaku usaha (petani). Masyarakat petani mulai merasakan manfaat kehadiran para petugas ini. Ketika kontrak kerja diputus, maka kesimbangan itu menjadi terganggu dan masyarakat petanilah yang paling dirugikan. Seyogyanya pilihan alur kebijakan Deptan adalah memperkuat sistem lembaga penyuluhan dengan meningkatkan performa dan kualitas penyuluhnya (termasuk meningkatkan status THL-TBPP pada posisi yang lebih baik). Tetapi mengapa yang dipilih oleh Deptan adalah kebijakan "banting setir" (THL-TBPP diarahkan untuk menjadi pelaku usaha)?
Menteri Pertanian Suswono menyatakan ada 4 target sukses pertanian yaitu swasembada berkelanjutan, diversifikasi pangan, peningkatan nilai tambah dan daya saing serta ekspor. Menurutnya, ke-empat target itu akan dicapai melalui strategi 7 gema revitalisasi, di antaranya revitalisasi sumberdaya manusia dan revitalisasi kelembagaan petani. Bagaimana target-target itu bisa dicapai, jika implementasi strategi tidak dijalankan? Bagaimana revitalisasi kelembagaan petani bisa terwujud, jika pendamping-pendampingnya "digerogoti"?

Harapan Kepada Menteri Pertanian Suswono

Penulis memahami bahwa rekan-rekan THL-TBPP Angkatan I 2007 berada dalam posisi dan situasi yang sulit, persis seperti pengembara di titik persimpangan jalan yang membingungkan. Tapi yakinlah rekan-rekan, bahwa keberadaan kita masih dibutuhkan oleh petani. Masih segar dalam ingatan kita akan tekad Pemerintah di awal periode 2004 - 2009 yang akan mengkondisikan keberadaan penyuluh pertanian dalam komposisi 1 penyuluh : 1 desa dan 1 desa : 1 penyuluh. Tapi, masih di penghujung tahun 2009 ini, semangat itu menjadi redup dengan keluarnya kebijakan pemutusan kontrak kerja itu.
Kepada Mas Sus, sebagai sesama alumnus dan pengguna jasa "Pondok Indraprasta", Babakan Sirna, Bogor, penulis ingin menyampaikan ucapan Selamat atas dilantiknya Bapak sebagai Menteri Pertanian KIB II. Jika 26 tahun yang lalu, kita sesekali sempat ngobrol saat baca koran, maka kini betapa jauhnya jarak kita, baik jarak fisik maupun jarak kedudukan. Tetapi, ijinkan penulis sebagai salah satu dari 26.000 THL-TBPP se Indonesia menyampaikan harapan. Tolonglah kondisikan kami, agar dapat melanjutkan darma bakti kami kepada masyarakat, bangsa dan negara sesuai spesifikasi kami sebagai penyuluh pertanian (pendamping petani), bukan sebagai yang lain.
Menggantungkan harapan semata-mata kepada Deptan, tentu saja tidak adil. Jalan keluar permasalahan ini juga sangat bergantung pada kebijakan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Men PAN). Karena itu kami berharap ada koordinasi dan kesepahaman yang sangat baik antara Deptan dan Men PAN, agar nanti dapat keluar kebijakan khusus yang mengatur kelanjutan program THL-TBPP dalam format yang sebaik-baiknya. Sekali lagi, sesuai arahan Presiden SBY, target utama Deptan adalah swasembada pangan berkelanjutan. Dalam hal ini, peran THL-TBPP sebagai ujung tombak pembangunan pertanian tidak bisa diabaikan untuk mendukung tercapainya target tersebut.

Penulis: Ir. Nur Samsu; merupakan THL TBPP angkatan 2008 BPP PAITON Kabupaten Probolinggo - Jawa Timur
Read more...

13 Sep 2009

TEKNOLOGI KEBERSAMAAN THL TBPP INDONESIA

0 komentar
TEKNOLOGI KEBERSAMAAN THL TBPP INDONESIA
TEMU TEKNOLOGI NASIONAL 1 THL TBPP INDONESIA

Kita ini harus bangkit!
Dan harus di pahami siapa dirimu?
Supaya kamu tahu bangkit sebagai apa dan bagaimana dan sampai seberapa jauh atau seberapa tinggi!
Kalau kau tahunya kamu adalah kodok maka kebangkitanmu adalah kebangkitan kodok!
Kalau kau tahunya kamu adalah “emprit” maka kebangkitanmu adalah kebangkitan “emprit”!
Tapi kalau kamu tahu kamu adalah Balkadaba maka kebangkitanmu bukan hanya kebangkitan kadal kadal kecil tetapi kebangkitan kadal Raksasa.
Tapi kalau kamu tahu kamu adalah “Garuda” maka kebangkitanmu bukan hanya kebangkitan “emprit-emprit” kecil tetapi kebangkitan “Garuda” Raksasa.(Transkip musik puisi Presiden Balkadaba-emha-kiai kanjeng. balkadaba hewan menyerupai komodo atau mungkin Dinosaurus)
Mohon maaf saya kutipkan puisi di atas sebagai ungkapan apresiasi dan penghargaan kepada kawan kawan di FK THL TBPP Nasional dan THL TBPP se Indonesia.
Temu Teknologi Nasional adalah lompatan dan energi semangat di kesadaran menjejakkan langkah di lapangan kenyataan perjuangan. Di beberapa waktu kita semua “capek dan letih”oleh ketidak menentuan diantara kita sendiri. Penyuluhan adalah energi menyampaikan “cahaya” karena suluh adalah cahaya. Maka peran pencerahan bagi seorang penyuluh di persyaratkan oleh pribadi pribadi yang sudah tercerahkan. Sedangkan pengetahuan dan teknologi adalah piranti alat untuk menuju ketercerahan.

Mungkin dan seharusnya sudah bukan lagi waktunya energi yang kita punya kita habis habiskan untuk bersilang pendapat diantara kita sendiri. Kerelaan untuk menomorsekiankan (bukan nomor satu) kepentingan sendiri menuju kesanggupan kita untuk saling berbagi ilmu dan semangat energi akan lebih bermanfaat nyata bagi kita sendiri (THL TBPP)dan petani menyangkut peran(penyuluh) yang kita jalankan. Maka kalau ada yang harus sungguh sungguh kita perjuangkan dan kerjakan adalah TEKNOLOGI KEBERSAMAAN itu sendiri. Kata “kebersamaan” betapa sangat mudah di ucapkan, di ungkapkan dan di paparkan. Kata “kebersamaan” banyak pula yang sudah mempraktekkan untuk satu dua hal berdasarkan semangat kepentingan kepentingan.Maka kebersamaan sejati juga merupakan sesuatu yang harus di “ilmui” sebagaimana teknologi teknologi yang lain, tidak sekedar baik tapi harus benar. Tidak cukup hanya baik dan benar tetapi harus indah. Bahkan kebersamaan yang baik, benar dan indah hanyalah kalimat dan ungkapan kosong kecuali dia nyata. Silakan kawan kawan menafsirkan seperti apa, paling tidak kebersamaan di antara THL TBPP se Indonesia harus segera di rebut dari awang-awang untuk kita pijakkan di bumi kenyataan. Kebersamaan yang hendak kita jalankan bukanlah kebersamaan berlandaskan kepentingan tapi berlandaskan cinta untuk kemaslahatan semua.
Temu Teknologi Nasional THL TBPP itu semoga menjadi tonggak berseminya tunas tunas baru sesudah kawan kawan menguasai dan menjalankan teknologi kebersamaan itu.
Ada 25 000 THL TBPP se Indonesia yang menyimpan energi energi itu, bahkan srikandi srikandi THL TBPP telah menawarkan jejaring net working yang apabila hal itu di jalankan secara nyata akan lebih bermanfaat nyata bagi kita, dan pastinya akan ada sangat banyak penguasaan teknologi toknologi lain yang di kuasai kawan kawan THL TBPP se Indonesia dari yang paling sederhana tentang “tlethong sapi” hingga teknologi “agroindustri”umpamanya.
Sekelebatan mimpi, semoga suatu saat entah kapan terwujud, pula PT THL TBPP Indonesia Tbk,dengan 25000 THL TBPP sebagai pemegang saham yang membangun 33 unit produksi di 33 propinsi, bangkit dan bekerja bersama dengan petani membangun kedaulatan pertanian.

PT. THL TBPP Indonesia Tbk…… Sebuah Perusahaan Agroindustri yang mengurusi Martabat dan Daulat Petani Indonesia.( AA/TNG)
Read more...

1 Jul 2009

SEPAK BOLA "ADU PENALTI” TIMNAS THL TBPP INDONESIA

4 komentar
Adu Pinalti dalam sepak bola adalah jalan terakhir sebuah penentuan, dalam adu pinalti hanya ada dua pihak penendang dan kiper, hanya ada satu tendangan bagi sang penendang tetapi berbagai cara (tangkapan, tepisan,blok,tubrukan dll) dari sang kiper. Dalam adu pinalti hanya dua kemungkinan gol atau tidak gol. Dalam adu pinalti kedua belah pihak sama sama dalam posisi siap dan siaga….wes pokoknya menegangkan dan mendebarkan lah…pada akhirnya dalam adu pinalti hanya ada menang dan kalah, siapa menang siapa kalah.

Temen temen THL TBPP se Indonesia, mbok ya perjuangan serius kita ini jangan di hadapkan pada situasi adu pinalti. Mari kebersamaan yang sudah kita bangun ini kita pergunakan energi kita itu untuk situasi bertanding dan berjuang di lapangan pertandingan sebelum keputusan adu pinalti. Ada 2 x 45 menit lho, mari kita kompak dan solid untuk bisa saling oper bola, umpan pendek dan jauh, umpan umpan terobosan di sisi kiri kanan, sundulan dan operan lambung. Bisa juga lo dengan kreatif kita rancang pola serangan yang melibatkan gelandang kiri kanan. Dalam situasi adu pinalti hanya ada 2(dua) kemungkinan, sedangkan di dalam situasi permainan ada ribuan operan dan tendangan-serangan yang punya kemungkinan menghasilkan gol gol indah. Operan bola dan strategi yang melibatkan seluruh pemain yang ada akan menampilkan permainan yang cantik yang punya ribuan kemungkinan menghasilkan gol gol indah dan bermartabat.
Temen temen THL TBPP semua jangan lupa,…. kita ini kecil dan kesepian. Semangat yang sudah kita bangun ini kadang naik kadang sayup-sayup..kadang menggelora mungkin juga bisa membisu. Mari kita hadirkan supporter penyemangat perjuangan kita ini, kita libatkan supporter penggelora energi perjuangan ini dalam situasi pertandingan yang kita kerjakan..Jangan lupa pula apapun hasilnya nanti akan kita persembahkan kepada supporter yang kita cintai itu(petani)…mari kita ajak petani berdiskusi untuk saling mendengarkan..sehingga ketangguhan petani adalah ruh perjuangan kita semua
Temen temen THL TBPP ayo kita keliling menyusur desa2-kita berjalan-berhijrah, membangun dialog dengan petani, membuka ruang seluas luasnya untuk berdiskusi dengan petani, menemukan alasan yang paling tepat, menyerap energi ketangguhan mereka.
Masih ada waktu kita bisa mengerjakan…..kita lakukan JELAJAH PENYULUHAN, PENYULUHAN JELAJAH DESA THL TBPP, kita lakukan perjalanan horizontal menemui petani untuk kemudian kita sampaikan suara suara murni petani itu dalam perjalanan Vertikal.ke Institusi Negara Bahwa Petani Mengerjakan Urusan Urusan Besar-penyuluhan mengerjakan hal hal besar. Petani dan Penyuluh adalah Sinergi yang tidak boleh dipisahkan
PENYULUHAN JELAJAH DESA –ANYER-NUSA DUA, atau ESTAFET PENYULUHAN JELAJAH DESA mulai ACEH hingga PAPUA
Bismillah Ayo kita kerjakan dulu pertandingan ini ……kita masih punya WAKTU.
Hidup itu bukan memetik nomer Satu
Hidup itu menanam
Hidup itu bukan sukses nomer Satu
Hidup itu berjuang
Jadi temukanlah kegembiraan dalam berjuang melebihi kegembiraan dari keberhasilan perjuangan itu sendiri.(emha ainun nadjib)
(@ap/tng/btn)
Read more...

TIM NASIONAL SEPAK BOLA INDONESIA, DAN THL TBPP INDONESIA

1 komentar
Entah kebetulan atau apa, bulan juli ini Tim Nasional Sepakbola PSSI AllStar akan menjajal bertanding dengan si “Setan Merah” Manchester United”. Kok ya berani beraninya…apa kiranya sedang “kesurupan” itu Bambang pamungkas CS. Bertanding ya memang bertanding, berduel tentu saja berduel tetapi bukan dalam atmosfer kompetisi melainkan di dalam suasana persahabatan. Tidak usahlah repot nanya kepada komentator, analis pertandingan atau pialang pasar taruhan tentang kemungkinan siapa yang bakal menang di antara 2 pihak yang akan berduel. Cukup nanya saja ke SSB (sekolah Sepak Bola) yang baru sebulan belajar nendang bola, kira kira berapa skor akhir TimNas PSSI versus MU “Setan Merah”. Masalahnya ini bukan menang atau kalah, bukan menghitung skore akhir, bukan permainan “iseng” . Pertandingan “duel” TimNas PSSI Vs MU adalah wujud kesungguhan perjuangan, adalah menggeloranya tekad berjuang, adalah symbol kerja keras melalui latihan latihan maka apapun hasilnya harus tetap di perjuangkan. Karena dengan itu akan di temukan kegembiraan dalam berjuang melebihi kegembiraan dari keberhasilan perjuangan itu sendiri.

Tim Nasional THL TBPP Indonesia
Alhamdulillah 25.000 THL TBPP setelah memasuki tahun ke 3 (tiga) keberadaannya ini sudah melahirkan kesadaran baru menjadi THL TBPP Indonesia dengan TimNas nya Forum Komunikasi THL TBPP Nasional. Memang baru lahir, tetapi semangat kebersamaan dan persaudaraan THL TBPP dari Aceh hingga Papua lah energi paling utama yang menjadi “ruh” yang akan melahirkan kekuatan kekuatan dalam kebersamaan perjuangannya.
Kita THL TBPP Indonesia mungkin kecil di mata Indonesia, sebagaimana Indonesia melihat kecil kepada kaum petani. Pekerjaan kita adalah “membantu” sehingga orang yang di bantu dengan sang ‘pembantu” pada hakikatnya lebih “kuat” si “pembantunya” Mungkin kita di pandang kecil, tetapi kita sebenarnya mengerjakan pekerjaan pekerjaan besar. Maka kesadaran Perjuangan THL TBPP menemukan “dirinya” harus di niatkan kembali dengan kemurnian kepada siapa semua ini di perjuangkan?. Kesadaran kita semua mengatakan bahwa muara perjuangan ini adalah untuk Para Petani. Maka jangan sampai terjadi niat kita berjuang bersama-sama ini berpaling dari “suara hati keinginan Petani”. Yang kita akan lakukan dan sedang kita kerjakan adalah menyuarakan “suara Petani”dan meletakkan di atas kepala kita (nyunggi)‘kepentingan “petani.
Oleh karena itu semua , kalau perjuangan THL TBPP Indonesia yang mengkristal dalam Tim Nas FK THL TBPP Nasional sebagai pihak yang harus “berunding, bermusyawarah,dan saling mendengarkan untuk menemukan jalan keluar “dengan Pihak Negara yang di wakili Pemerintah, maka para petani adalah “sporter” yang menyemangati dan memberi kita energi tak terbatas untuk berjuang dan hasil (gol gol )dari “pertandingan/ musyawarah” harus dan wajib kita persembahkan kepada pemilik kedaulatan pertanian yaitu PETANI.
(@ap/tng/btn)
Read more...

ENERGI “gerilya” DJOGJA “gelora” BANDOENG

0 komentar
Di Jogja kita belajar dan menyerap energi Gerilya, mengesampingkan kepentingan diri sendiri untuk bergabung dalam kebersamaan perjuangan. Berjuang bukan untuk melawan siapa siapa kecuali memeperjuangkan kebersamaan dan persaudaraan itu sendiri. Di Jogja adalah lahirnya pemaknaan bahwa merobohkan sekat-sekat parsial menjadi kesadaran komunal. Di Jogja adalah kerelaan meruntuhkan kepentingan kepentingan kedaerahan menjadi lahirnya kesadaran baru dalam Nasionalisme ke Indonesia-an yang di tandai lahirnya Forum Komunikasi THL TBPP Nasional.

Maka momentum Jogja bukan akhir perjuangan….dari kelahiran energi baru di Jogja harus di gelorakan dan terusss di gelorakan dengan “semangat Bandung”. Bandung adalah energi api semangat yang menggelora di kesadaran baru, yang harus selalu di gelorakan. Di gelorakan selalu dari Aceh hingga Papua, senantiasa menggelora agar tidak terlena. Agar kelak bisa bersama-sama kita akan “Proklamir”kebersamaan dan persaudaraan THL TBPP Indonesia di Jakarta Insya Allah. Karena yang sedang kita kerjakan adalah murninya perjuangan dan bukan “iseng-iseng”belaka.
Read more...

13 Jun 2009

Budaya THL TBPP

2 komentar
(Sebuah Renungan)
Suatu hari ketika saya dalam perjalanan menuju tempat kerja di WKBPP, saya mengendarai sepeda motor dengan jalanan yang tingkat kenyamanannya sekelas jalanan untuk Grasstrak dan mottocros. Jalanan berbatu, berlubang di sana sini di lengkapi kubangan-kubangan air. 50 menit waktu di butuhkan bermotor untuk mencapai Base Camp BPP setiap pagi.

Di sebuah tikungan mendadak saya harus berhenti, karena di depan ada sebuah mobil van”minibus” yang terperosok dan “nyungsep” di pinggir jalan..kedua roda depan nya sudah keluar dari jalan dan masuk ke pematang sawah hampir nyebur ke hamparan tanaman padi. Ada seorang wanita muda yang panik keluar dari pintu mobil, gugup mendapati mobilnya “nyungsep’dan hampir masuk ke dalam sawah. Aku mendapati kejadian sangat runtut, jalanan masih sepi, sehingga bagi wanita muda yang mengemudikan mobil ‘nyungsep” itu sayalah satu-satunya yang di harapkan untuk bisa menolongnya.

Tanpa menunggu si wanita itu meminta tolong, saya turun dari motor dan bergegas untuk membantu sebisanya mengeluarkan mobil nyungsep itu agar bisa kembali ke “jalan”

Maaf kejadian itu, bisa dialami siapa saja di mana saja dengan kadar kejadian yang berbeda beda..tapi boleh saja saya mengambil keputusan lain, umpamanya…..

A. Benar kejadian itu berlangsung di jalanan yang tiap hari saya lewati., tetapi

1. Wanita itu bukan petani! Jadi saya tidak punya kewajiban secara professional untuk mengupayakan pertolongan. Karena tugas saya di fokuskan untuk bisa mengupayakan pemecahan masalah-masalah yang di hadapi petani

2. Kejadian itu berlangsung bukan di wilayah kerja tanggung jawab saya, bukan di WKBPP saya, bukan di Wilbin saya. Jadi menurut tanggung jawab profesional saya tidak wajib untuk menolong beliaunya dan mobilnya.
3. Menurut kitab TUPOKSI THL TBPP tidak ada satupun kalimat yang menyebutkan bahwa ada keharusan saya untuk “menolong” mobil nyungsep di sawah.
4. Tidak ada peraturan daerah(perda) atau aturan tertulis lain yang di keluarkan oleh Pemda,Permentan,Perpres yang bisa menjadi landasan agar saya menolong wanita dan mobilnya yang sedang nyungsep di sawah itu

B. Dan lain lain dan lain lain

Jadi dengan sedikit ataupun banyak argumen dan retorika sebenarnya saya tidak wajib untuk menolong wanita dan mobil nyungsep itu dan mengacuhkan begitu saja.. Dan akan terkumpul banyak sekali alasan alasan untuk sekedar menguatkan keputusan “saya tidak wajib menolong wanita dan mobil nyungsep itu”

Jadi untuk memutuskan menolong wanita dan mobilnya yang nyungsep ,apalagi sama sekali belum sama kenal beliaunya itu, tidak perlu saya membuka agenda harian untuk melihat TUPOKSI THL TBPP umpamanya. Atau membaca/mempelajari Permentan tentang Pembinaan THL TBPP, dan sama sekali tidak harus membolak balik pasal demi pasal dalam perda di kabupaten tempat saya bertugas.

Menolong dan hanya menolong dan keharusan untuk menolong Titik!!!.

Setelah 3 tahun keberadaan THL TBPP di lingkungan pertanian Indonesia dengan jumlah 25000 THL TBPP di seluruh Indonesia . dalam kesehariannya THL TBPP bahu membahu berupaya kembali membangunkan greget gairah pertanian, menawarkan pencerahan, membangkitkan kepercayaan diri petani, membantu menemukan solusi dari masalah yang di hadapi petani. Tenaga Harian Lepas yang menjadi Tenaga Bantu dengan kesadaran semangat “membantu” siapa saja. Ya membantu petani, membantu senior PNS Penyuluh Pertanian, dan di zaman otonomi daerah ini, setidaknya ikut membantu pemerintah daerah di wilayah pertanian yang belum tersentuh penyuluhan. Tentu saja saja hal ini bukan ungkapan “GR” dari THL TBPP karena di dunia kenyataan pembantu berbeda “nasib” dengan “juragan”. Namun kerelaan diri untuk membantu, itu sajalah energi dan semangat yang membuat tetap hidup dan bertahan.

Di Tahun ke tiga ini, teman teman kami-saudara saudara kami sesama ‘pembantu” di ujung pengabdiannya sebagai pembantu.. 5000 lebih THL TBPP dan untuk tahun berikutnya kami semua akan nunggu “giliran” di ujung pengabdian , tanpa kami tahu rencana dari sang ‘juragan”. THL TBPP angkatan I sedang “nyungsep”, terperosok dari jalan dan tidak tahu kepada siapa harus minta tolong.. Kepada pihak pihak yang selama ini di “bantu” berharap bisa menolong THL TBPP setidaknya memberi informasi, membuka ruang diskusi agar semuanya jelas. Tentu saja pihak pihak yang di bantu(Pemerintah, Deptan,Pemda) kenal betul dengan THL TBPP, dan faham dengan situasi menjelang “nyungsep” yang di hadapi. Untuk sekedar membuka ruang diskusi tentu saja sangat-sangat bisa di lakukan, untuk memberi jernihnya informasi atau bahkan menawarkan solusi solusi.

Kalau keharusan menolong nyungsepnya para ‘pembantu’(THL TBPP) ini harus di bikin dulu perpres, permentan, perda, atau di bikinkan UU bagaimana cara membantu situasi “nyungsep” para “pembantu”. Apa beda nasib “mobil Nyungsep di sawah” dengan THL TBPP Indonesia??? (ap/tng/btn)
Read more...

2 Jun 2009

MENJAHIT PAKAIAN KEBERSAMAAN

1 komentar

Kalau pada suatu saat saya pengen baju , celana pakaian yang nyaman bagi saya untuk di pakai dan di kenakan, maka saya akan datang ke tukang jahit untuk minta di bikinkan pakaian yang pas dengan badan saya. Tentu saja celana pakaian saya hanya nyaman dan enak di pakai untuk badan saya karena di ukur dan di buat memang untuk badan saya. Bagi anda celana saya mungkin kekecilan, bisa juga terlalu longgar. Sehingga umpama suatu saat anda bersilaturahmi ke rumahku, dan saya berniat menghadiahkan baju baru kepadamu maka saya tidak bisa mengatakan ‘baju ini bagus dan sangat nyaman untukmu” karena baju-celana itu di jahit berdasarkan ukuran tubuhku. Sangat pas hanya untuk ukuran tubuhku, nyaman dan enak untuk situasi di sekitar rumahku.

Potret potret permasalahan, di dalam tubuh THL TBPP Indonesia juga sangat beragam, jumlahnya mungkin sebanyak jumlah THL TBPP itu sendiri. Mengapa sampai tahun ketiga ini belum mengkristal umpamanya solid dan kompaknya THL TBPP Indonesia bisa jadi karena setiap THL TBPP lebih mengedepankan “baju-celana” yang pas dan nyaman bagi diri dan daerahnya. Ada temen2 THL TBPP yang mendapat respone sangat bagus di daerahnya sehingga oleh “pemda”nya di berikan kenyamanan kenyamanan. Tapi banyak juga temen temen THL yang ketlingsut, di”acuhkan” keberadaannya walaupun sudah menjalankan amanah tanggung jawabnya umpamanya.

Potret potret permasalahan, di dalam tubuh THL TBPP Indonesia juga sangat beragam, jumlahnya mungkin sebanyak jumlah THL TBPP itu sendiri. Mengapa sampai tahun ketiga ini belum mengkristal umpamanya solid dan kompaknya THL TBPP Indonesia bisa jadi karena setiap THL TBPP lebih mengedepankan “baju-celana” yang pas dan nyaman bagi diri dan daerahnya. Ada temen2 THL TBPP yang mendapat respone sangat bagus di daerahnya sehingga oleh “pemda”nya di berikan kenyamanan kenyamanan. Tapi banyak juga temen temen THL yang ketlingsut, di”acuhkan” keberadaannya walaupun sudah menjalankan amanah tanggung jawabnya umpamanya.

Di dalam potret keinginan dan cita cita THL TBPP juga sangat beragam keinginannya, mungkin saja ada yang menganggap peran pekerjaan THL TBPP hanya sebagai “batu loncatan” karir pribadinya, ada juga yang bertahun tahun melamar pekerjaan dan “ndilalahnya” di terima di rekrutmen THL TBPP. Tapi adapula dan banyak yang sebenarnya sudah punya pekerjaan mapan sebelumnya namun karena panggilan jiwa atau apapun untuk bisa berbuat di bidang pertanian dengan terpaksa atau kesadaran melepas pekerjaan sebelumnya untuk ikut bergabung menyumbang tenaganya di bidang pertanian menjadi “tenaga bantu”di THL TBPP. Di dalam potret kesejahteraan financial dari honor yang di terima THL TBPP juga beragam dinamikanya. Ada yang honornya menjadi THL TBPP merupakan sumber nafkah utama bagi diri dan keluarganya, tidak sedikit pula yang honor sebagai THL TBPP hanya merupakan “uang jajan”bagi anaknya atau sekedar anggaran “pulsa”. Karena tidak sedikit temen2 THL TBPP juga menjadi pelaku bisnis yang sukses dan tangguh, entah di bidang pertanian atau yang lainnya. Dan masih banyak lagi potret keragaman diantara THL TBPP,

Mengapa sampai tahun ketiga ini belum ada kesolidan THL TBPP Indonesia yang maaf semua personelnya mengenyam pendidikan(menengah-tinggi) bahkan berada di dalam atmosfer pengetahuan keilmuan yang sama(pertanian). Mungkin salah satunya karena setiap gerakan aktifitas THL TBPP titik pandang kesadaranya hanya berlaku dan di semangati untuk “baju-celana’ yang nyaman bagi diri dan daerahnya kalau sedikit meluas. Belum muncul kesadaran dan pergerakan yang signifikan yang berupaya mewujudkan ‘pakaian kebersamaan”. Jambi berbeda dengan Riau. Gorontalo-Sumsel-NTB-Banten-Jabar-Papua masing masing berbeda atmosfer permasalahannya. Maka “celana-baju” THL TBPP Gorontalo dan Riau tidak muat di kenakan THL TBPP Banten walaupun temen temen pengen punya “celana’seperti itu.

Silaturahmi Nasional, Saresehan Nasinal, Temu Nasional oleh THL TBPP Indonesia atau apapun namanya hendaknya bukan di semangati keinginan mendapatkan “baju-celana” yang pas dan nyaman untuk diri dan daerahnya. Tetapi adalah semangat untuk menjahit “pakaian kebersamaan’yang siapa saja (THL TBPP) nyaman mengenakannya. Mungkin saja tidak bisa di sebut baju dan celana wujud pakaian itu.

Temu Nasional THL TBPP Indonesia semoga mampu mempertemukan sesobek dan secuil kain-kain dari THL TBPP Aceh hingga Papua untuk kemudian bersama sama di jahit menjadi lembaran kain Selimut THL TBPP Indonesia yang mampu menghangatkan kebersamaan dan persaudaraan THL TBPP Indonesia…. Semoga.. Tapi tunggu dulu jangan jangan kita belum bisa menyumbang sesobek kain, karena 3 tahun ini bisa jadi THL TBPP masih berupa “benang-benang” sehingga butuh energi yang lebih besar. Ayo bersama sama ”memintal dan menjahit pakaian kebersamaan” THL TBPP Indonesia.(AA/TGR/BTN)
Read more...

13 Mar 2009

STRATEGI UNTUK MENGHADAPI PEKERJAAN BARU SEBAGAI THL-TBPP

0 komentar
Penerimaan THL-TBPP mulai dari angkatan 2007, 2008 dan angkatan 2009 Menggunakan sistem penjaringan semua disiplin ilmu pertanian (Agronomi, Tektan, HPT, THP, Peternakan dll). Artinya Departemen Pertanian (Deptan) sebagai penyelenggara dan penanggungjawab berasumsi, semua peserta yang lulus dalam seleksi memiliki kemampuan sama dan siap pakai ketika THL-TBPP sudah terjun ke lapangan sebagai seorang Penyuluh.

Dalam tahapan Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT), Deptan fokus pada teknik penyuluhan, dan tidak lagi fokus pada ilmu dan teknik pertanian. Bukan menjadi masalah ketika seorang THL-TBPP berasal dari Agronomi/HPT (S1/2), Budidaya Tanaman Pangan/Hortikultura (D3-SLTA) karena masing-masing sudah dibekali dengan disiplin ilmu yang sudah diampu/tempuh. Akan tetapi bagaimana dengan THL yang berasal dari disiplin ilmu Tektan, THP, Perkebunan, Peternakan, dan jurusan lain yang pada waktu lampau sedikit sekali mendapat teori tentang budidaya tanaman pertanian (khususnya pangan).

Berikut Beberapa tips dalam menyusun strategi menjadi THL TBPP:

”setiap pintu memiliki anak kunci masing-masing”
Aspek sosial masyarakat memegang peranan penting, karena hal ini berkaitan dengan bisa diterima atau tidaknya petugas baru dalam penyampaian pengetahuan dan teknologi baru.

Ini artinya sebelum melaksanakan tugas, setidaknya THL-TBPP harus diterima oleh masyarakat baik itu pamong desa (Kepala Desa beserta perangkatnya), Gapoktan, Kelompok Tani, dan masyarakat tani pada khususnya.

Hal ini bisa dicapai ketika THL-TBPP bisa mempelajari secara rinci apa-apa yang menjadi kebiasaan, kegemaran, dan keinginan dari masyarakat yang akan menjadi audiens, sehingga akan didapat bagaimana cara supaya diterima oleh masyarakat.

“Jadikan petani sebagai teman”

Pada kenyataannya, penyuluh lapang sering menganggap petani sebagai objek yang harus dibina. Sehingga jarang terjadi proses interaksi yang mengarah pada istilah “saling memberi dan menerima”.

Proses saling memberi dan menerima bisa terjadi jika petani merasa menjadi teman/mitra bagi petugas lapang, sehingga terjadi hubungan yang harmonis antara petani dengan penyuluhnya.

“Perubahan”

Perubahan yang dimaksud bukan berarti perubahan total/menyeluruh. Akan tetapi lebih mengarah kepada perubahan menuju ke arah yang lebih baik.

Pada umumnya, masyarakat tani menaruh harapan besar kepada kepada petugas baru (THL-TBPP) dan menganggap bahwa petugas tersebut bisa memberi perubahan dan perbaikan.

Akan tetapi, petugas baru harus bisa menyikapi secara bijak terhadap reaksi positif – negatif atas pembinaan yang telah lampau (penyuluh lama). Akan terjadi perbandingan atas apa yang sudah dilakukan oleh penyuluh lama dan apa apa yang sedang dilakukan oleh petugas pengganti (THL-TBPP)

“Mulai dari hal terkecil dan sekarang”

Seringkali karena permintaan atau keinginan, penyuluh lapang selalu fokus atau bahkan terobsesi pada hal-hal yang besar dan melupakan hal-hal yang kecil tapi penting. Hal ini wajar terjadi, karena faktor keinginan untuk berprestasi dari seorang petugas baru. Yang perlu diingat, sesuatu yang besar tidak akan terwujud jika tidak dimulai dari hal-hal yang kecil.

“Kuasai alam bawah sadar manusia, maka apapun yang diberikan akan diterima”

Salah satu masalah yang dihadapi oleh petugas baru adalah masalah penyampaian dan penerimaan atas materi yang disampaikan. Ini wajar, karena sebagian besar masyarakat pedesaan sering menganggap petugas baru adalah orang asing yang kemampuannya belum teruji.

Ketika THL-TBPP bisa menunjukkan bahwa apa yang disampaikan itu penting dan bisa memberi manfaat, maka secara alami audiens akan yakin dan percaya atau bahkan mengikuti anjuran akan penyampaian yang sudah diberikan.

“ Memberi contoh lebih efektif dari mengajak “

Pada setiap penyampaian suatu teknologi baru, sering didapati ketidak pahaman dari petani, atau bahkan penolakan atas teknologi tersebut. Hal ini disebabkan karena petani berpegangan kepada kebiasaan dan pengalaman (empiris) yang di dapat secara turun temurun, dan dalam kurun waktu yang lama.

Memberi contoh bukan hanya secara langsung (frontal), akan tetapi bisa menggunakan perbandingan dengan objek yang sudah melakukan dan berhasil. Dan hasil uji coba sendiri

”Berusaha berbuat baik, hasil akhir adalah dampak”

Secara manusiawi, semua orang berharap akan bisa melakukan sesuatu yang besar dan baik di mata orang lain. Akan tertapi, sering kali orang melupakan perencanaan dan proses bagaimana sesuatu perbuatan akan menghasilkan pengakuan dari orang lain bahwa yang sudah dilakukan memberi manfaat kepada orang lain

Akhirnya penulis teringat pesan yang sudah disampaikan oleh SBY ketika membuka acara jambore dan festifal karya penyuluh 2 (cibodas, bogor).
"berkerja dulu yang baik, tunjukan prestasi, jika memang bagus.....................................kenapa tidak?"
(dwi a-lamsel)

Read more...

12 Apr 2008

Ketika Bunda Hanya Bisa Bercerita...

0 komentar
Pulang dari pasar, Bunda misah misuh (Marah-marah). Katanya apa-apa sekarang harganya naik. Minyak goreng naik. Beras naik. Telur naik. Terigu naik. Bahkan katanya jajan anak-anak aja naik. Saya jadi ingat kasus harga kedelai yang naik hingga 200 % dulu itu. Indonesia itu lahannya subur. Koes plus bilang, tongkat dilempar jadi tanaman. Tapi kenapa bisa mengalami krisis? Ada isu mengatakan beras sebentar lagi harganya jadi Rp 7.000/kg di tingkat konsumen. Harga setinggi itupun bukan petani yang bakal menikmati. Adalah mereka para mafia investasi dan pengusaha yang jadi semakin kaya. Just for information, rata-rata harga jual GKP (Gabah Kering Panen -yaitu gabah/padi yang bener-bener baru dipanen, belum dikeringkan dan digiling jadi beras-) dari petani itu cuma Rp 1.900/kg. Kalo sudah digiling jadi beras, harganya jadi Rp 2.350/kg. Naahh..jadi kalo beras nantinya dijual Rp 7.000/kg, maka keuntungan sebesar Rp 4.650/kg itu tentu saja diambil pengusaha. Petani tetep aja kere dan ga sejahtera.

Mafia investasi itu kini mulai meninggalkan minyak dan melirik biji-bijian sebagai komoditi investasi. Misalnya jagung, jarak, kedelai bahkan kini gabah pun mulai di dekati. Jagung dilirik karena bisa diolah menjadi bioetanol. Nah karena biji-bijian itu beralih fungsi menjadi bahan bakar, maka harganya meningkat sehingga tak terjangkau oleh petani dan konsumen untuk digunakan sebagai sumber pangan. Dan pada akhirnya terjadilah krisis pangan.

Jika kita mau meniru Brazil yang menerapkan sistem estate untuk pertanaman kedelai, mungkin kita bisa swasembada kedelai, bahkan mampu untuk mengekspornya. Estate itu semacam sistem pertanaman monokultur pada areal yang sangat luas dan dikelola dengan manajemen yang baik, contohnya seperti kelapa sawit, coklat dan karet. Selama ini kedelai kan ditanam hanya sebagai tanaman sela diantara tanaman utama atau ditanam pada lahan sawah tadah hujan saat musim kemarau saja, sehingga kebutuhan kedelai dalam negeri belum (kalo tidak mau dikatan "tidak") mampu memenuhi permintaan pasar. Di Brazil sana, petani-petani itu mendapat berbagai tunjangan layaknya pegawai kantoran di kota, sehingga arus urbanisasi dapat ditekan dan para pemilik lahan tetap menanami lahannya.

Sebenernya Indonesia juga sudah mulai menanam kedelai demi terciptanya ketahanan pangan. Ada 5 BUMN yang bergerak dalam sektor agro/pertanian melakukan sinergi dengan menandatangani MoU untuk meningkatkan produksi kedelai nasional. Kelima BUMN tersebut adalah Perum Perhutani, PT Pertani, PT Pupuk Kujang, PT Petrokomia Gresik dan PT Sang Hyang Seri. Berita lengkapnya ada disini. Semoga saja program ini bisa berhasil. Semoga pemerintah terus memperhatikan bidang pertanian agar negara ini tidak mengalami krisis pangan. Dan semoga saja lahir kebijakan-kebijakan baru yang memihak kepada petani. (lia-clp)
Read more...